Movies

Sabtu, 31 Desember 2011

Aku hanya seperti apa yang kau lihat

Aku hanya seperti apa yang kau lihat dan kan kuberitahukan apa yang belum kau lihat

biar tidak terlalu menghentak bila nyatanya aku tidaklah tangguh tetapi rapuh, bila nyatanya aku tidaklah tegar dan pundakku tidaklah begitu lebar.

maka, gampar saja wajahku ini bila krikil saja membuatku tersandung jatuh lalu runtuh!

Dalam hidup, terkadang aku sampai pada satu titik dimana hati sulit bergerak, takut tersesat, enggan beranjak.

dan aku harap ada sosok yang hadir disana bersama ribuan kadang itu.

aku butuh telapak tangan biar keras menampar tetapi ku tersadar itu hanya krikil kecil bukan batu besar

lalu aku butuh telinga untuk menyimak setiap huruf yang kukatakan

butuh mata untuk menatap setiap gerak yang kukerjakan

dan butuh perasaan untuk meraba setiap apa yang kurasakan

maafkan aku bila terlalu menuntut sementara tidak kuberani janjikan suatu hal pun selain sepenggal ungkapan tak tuntas "aku mencintaimu", yang hanya dengan dua kata itu ku sergap kepercayaan penuh darimu.



dear...


tak masalah kita mulai dari sisi mana, dan dari sudut apa. karena yang penting pada akhirnya kita bersatu padu pada satu hal yang sama.

bukankah tidak mesti bahwa angka sepuluh ialah hasil dari angka lima tambah lima, tetapi angka sepuluh ialah dari perkalian, pertambahan, pengurangan, dan pembagian angka mana ke mana?.

langit tidak selamanya cerah, angin tidak selamanya ramah, dan percayalah akupun tidak selamanya utuh.

dan aku, hanya seperti apa yang kau lihat.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Jangan terjebak Respon!

28 agustus 2011. Sembari ngabuburit aku bersama temanku pergi membeli es buah durian di depan kampus. Didorong temanku untuk sekedar bercanda dan mencairkan suasana aku agak sedikit komplain pada si emang penjual es, dengan lagak santai aku berkata bahwa air es nya sekarang tidak berwarna kuning lagi yah mang?

Dan apa respon yang aku dapat?

Kendati bentuk kalimat yang aku kemukakan bukan dalam redaksi pertanyaan alias bentuk berita atau dalam bahasa arab disebut insyaiyatul lafd, khabariatul makna.

“Yah” jawaban singkat angkuh. Si emang itu jelas tidak senang akan ucapanku, wajahnya sontak berubah masam, aku tanyakan harga (padahal basa basi karena sudah tahu harga es tersebut), dijawab dengan masam tanpa memandangku seakan dia sedang sibuk meladeni pelanggan, padahal hanya akulah satu-satunya pelanggan ketika itu.

Hingga ketika kusodorkan uang 50 ribu an, dia berkata dengan tegas: “gak ada kembaliannya!”.

Hah!, aku terus nanya: “terus gimana mang?, gak ada uang kecil mang” aku memelas karena suasana serasa mulai kikuk.

Dia jawab lagi dengan tegas “gak ada” masih dengan nada ketus tanpa menoleh pula.

Kondisi ini seperti cowok yang sedang ngebujuk ceweknya yang lagi ngambek. Kalau untuk cewek sih aku masih ada toleransi untuk bersikap sabar, Tapi kan dia bukan cewek!!! Haihhhh!!!

Nah, dalam benak karuan saja hati ini uring-uringan mulek berkata: “jutek amat, okeh aku gak jadi beli deh kalo gitu mah masih banyak ko penjual es di sekitar sini” tensi ku naik. Tapi sebelum ide itu terlontar temanku menyarankan “udah zir, simpen aja dulu es nya, kita beli nasi dulu nanti kembali ke sini. Akupun sepakat dengan usulan temanku, mengingat-ngingat bulan puasa.



Di motor, seperjalan menuju warteg, hatiku ngutruk dan disanalah terjadi pertarungan antara emosi dan logika.

Aku mulai mengingat-ngingat buku yang telah ku baca tentang mengubah perspektif. Aku mengingat petuah seniorku bahwa sebetulnya dalam hidup jangan terjebak pada respon dari phenomena, tetapi takar lah dulu setiap phenomena dengan logika.

Dengan begitu aku mulai mengalihkan perasaan ke logika, dan kuubah perspektif nya.

Caranya mudah, aku mulai dari memahami keadaan si emang es karena ini tanggal akhir bulan puasa di mana musimnya mudik ke kampung halaman berkumpul sanak family, analisa Sherlock holmes aku gunakan; melihat dari pakaiannya, logat bicaranya, jelas dia bukan berasal dari bandung, kuat jadi dari dataran jawa tengah atau jawa timur. Di hari sebelumnya biasanya dia di temani mitranya tapi kini dia sendiri, bisa jadi si mitra tersebut sudah mudik duluan. Al hasil kondisi ini sudah jauh dari cukup untuk membuat diriku gak usah marah-marah dan mulai bersyukur.



Dari sana pikiranku mulai beralih akan urgensi masing-masing dan mulai mengaplikasikan pepatah: “dahulukan tanggung jawab daripada hak”. Disinilah letaknya kesalahanku tadi sampai emosi begitu rupa.

Aku menghadap tadi bak seorang raja yang inginnya diladeni, padahal sikap itu kendati merupakan hal yang wajar dalam jual beli karena konsumen adalah raja, tetapi dari segi nilai aku lah yang sedang bernegosiasi dengan diri sendiri akan arti pemberian, dan keikhlasan.



Dan akhirnya, aku dan temanku kembali ke penjual es tersebut, aku tersenyum penuh ketulusan sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan menanyakan kembaliannya demi mempermudah karena ketika itu si emang sedang repot dikerubuni pelanggan: ”mang pulangannya dua ribu mang hehehe” ucapku dengan nyengir sarat makna dan penuh kasih.



Ed dunya Helwah (hidup itu indah). itulah yang terbersit dibenakku bila kita sedang bersyukur, dan memang kebahagiaan itu ada ketika kita bersyukur, dimana kita bisa berdamai dengan diri hingga kita tidak terjebak respon dan menjadikan hidup kita terkendali, penuh kesadaran akan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan yang sebenarnya ada tepat di depan kita bahkan dalam diri kita.



Ingat ungkapan Anonim: Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan rasa syukur kitalah yang membuat kita bahagia.

Histori, Biodata, dan Sajak Iblis.

Konon, iblis yang ingin bertaubat bertanya kepada nabi Nuh as.
'Apa yang harus kulakukan agar taubatku diterima Allah?
Nabi Nuh lalu bertanya kepada Allah swt, dan mendapat jawaban:

''perintahkan ia(iblis) sujud ke kubur Adam as. !''

Setelah nabi Nuh menyampaikan jawaban tersebut, iblis mengerenyitkan kening lalu menggeleng sambil berkata:

Enggak deh, sewaktu Adam masih hidup saja, aku enggan bersujud kepadanya, apalagi setelah kematiannya''


Nampaknya, keangkuhan menjadikannya seperti itu.

Setelah itu, iblis menuliskan biodatanya dalam secarik kertas untuk disebarkan ke seluruh umat jin dan manusia, ke setiap penjuru semesta.


Nama: Iblis.
Gelar: Setan.
Tgl. Lahir: 1-1- tahun perintah sujud kepada Adam.
Alamat: Hati orang-orang yang lengah.
Warga negara:Dunia.
Agama: kekufuran.
Pekerjaan: pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Tuhan.
Pangkat dan golongan: Pembangkang utama.
Jabatan: Pemimpin tertinggi kekufuran dan syirik.
Masa kerja: Sejak kelahiran Adam sampai kiamat.
Modal kerja: penipuan.
Cara kerja: Bertahap.
Sarana: Seks, harta dan semua hiasan dunia.
Sumber rezeki:semua yang haram.
Tempat favorit: Night club, pasar dan tempat-tempat kotor.
Hobi: Menyesatkan dan menjerumuskan.
Cita-cita: Semua manusia masuk neraka.
Isteri: semua yang terbuka auratnya.
Anak sah: lima orang.(Tsabar, al a'war, Miswath, Daasim, Zalanbuur).
Anak angkat: banyak, dari manusia dan jin.
Cucu-cucu: yang durhaka pada orang tuanya.
Yang ditakuti: zikir dan ayat al Qur'an.
Musuh: Tuhan dan orang beriman.
Teman: semua yang rakus, boros dan ingin kekal.
Kekuasaan: Nihil.
Kemampuan: lemah.
Wewenang: merayu.
Alat komunikasi: waswas dan mengumpat.
Yang paling disenangi: pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia.
Keperibadian: angkuh.

Adapun foto frofilnya, boleh anda ilustrasikan, karena seandainya diadakan lomba melukis setan, lukisan yang paling buruk dan menakutkanlah yang menjadi juaranya.

Namun tipu muslihat iblis jauh lebih canggih dari yang anda pikirkan.
Berikut kisah menarik yang dialami oleh Sa'dy Asy-Syairazy , seorang sufi pengagum syekh Abdul Kadir Jaelani, yang bermimpi bertemu Iblis. Katanya, aku melihat Iblis dalam mimpi, tinggi ramping seperti dahan pohon dengan dua mata bagaikan mata bidadari, penampilannya bagai disirami oleh cahaya kenikmatan(syurgawi). Sa'di sangat heran, bagaimana mungkin yang terkutuk dan dibenci itu, berpenampilan indah dan simpatik?

Maka sa'di bertanya untuk menjawab keheranannya itu, Iblis menjawab penuh angkuh:
"Jangan percaya yang dinampakkan kepadamu adalah aku. Aku ditulis oleh satu kuas yang dipegang seorang musuh yang iri hati atas keindahanku karena aku telah menyingkirkan nenek moyangnya dari surga".

Betapapun, tidak bisa dipungkir bahwa yang jauh lebih membahayakan adalah sesuatu yang tampak menarik namun membinasakan dari pada yang buruk rupa, karena kejelekan biasanya kurang mengundang perhatian.

Sepintar dan secerdas itulah adanya iblis, dia tidak takut memperlihatkan tipu muslihatnya karena toh kebodohan manusia selalu saja mau mengikutinya.

Didalam Q.S, Ibrahim 14: 22. terabadikan pidato Iblis, disuatu pemandangan di tengah neraka. Disana Iblis berdiri berpidato yang didengar seluruh penghuni neraka.

Kini, tiba sudah saatnya terpenuhi janji-janji Allah, yang hak dan yang disampaikan oleh para nabi. Janji itu antara lain adalah, bahwa kiamat pasti datang, dan bahwa surga dihuni oleh hamba-hamba-Nya yang taat, sedangkan neraka, dihuni oleh yang durhaka. Saya pun pernah menjanjikan kalian bermacam-macam janji, tapi saya mengaku, bahwa saya tidak memenuhinya. Tuhan juga telah menyampaikan pada kalian bahwa janji dan harapan-harapan yang saya sampaikan itu adalah bohong. Ketika itu, saya tidak dapat memaksa kalian, karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu, dan saya tidak mempunyai bukti atas apa yang saya janjikan: 'saya hanya mengajak kalian' dan kalian memenuhi ajakan saya, karena itu jangan salahkan saya, tapi salahkan diri kalian sendiri. Saya tidak dapat menolong atau memberi manfaat kepada kalian, kalian pun demikian terhadap saya. Saya tidak dapat menolong kalian menghadapi ancaman dan siksa Allah.

Sewaktu didunia iblis juga pernah melantunkan syair bersayap pada para pengikutnya:
Tanpa engkau, menjadi jelas keburukan dunia
Tetapi denganmu ia nampak penuh pesona.
Ambillah dunia, dan jadikan kediamanmu, dan kini, hindarilah pintu-pintu neraka!



Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita dari tipu muslihat iblis dengan aneka jejaringnya. Amien.



Sumber:
yang ringan yang jenaka, yang tersembunyi. M.Qurais Shihab. Bustan. Sa'di.

Kelebihan Jomlo

Banyak orang berkilah, berapologi bahwa jomlo berbeda dengan single, statement ini berat kemungkinan didasarlan atas kurang tabahnya yang bersangkutan akan cemoohan atau gunjingan public, ditengah mainstream budaya pacaran masa kini.

Sedikitnya ada dua jawaban cukup memuaskan untuk pandangan minor tersebut:

Pertama: dalam KBBI (kamus “badag” bahasa Indonesia) jomlo berarti perawan tua. Sementara single berarti sendiri, dengan kesimpulan single adalah prinsip, jomlo adalah nasib.

Kedua: jangan jawab, dan jangan tersinggung, kan prinsip. Mau disebut jomlo kek, mau disebut single kek, mau disebut mufrad kek, atau mau disebut batangan sekalipun, masa bodo!

Didunia politik, apabila anda ingin mengetahui dengan validalitas tidak diragukan, bertanyalah pada sosok yang tidak berkecimpung dalam dunia politik yang disebut pengamat politik, begitupun dalam dunia sains, sastra, ekonomi, dlsb, selalulah bertanya pada sosok yang tidak ada sangkut pautnya dengan object matter sasaran anda, karena dengan demikian anda akan mendapat jawaban paling objektif, maka dari itu tidak salah bila strata paling tinggi dalam khazanah pemikiran adalah seorang filsuf.

Nah, sebab kausal diatas juga tidak lepas dari dunia percintaan. Apabila anda ingin tahu kualitas, kuantitas hubungan cinta, bertanyalah pada sosok yang tidak berada dalam dunia cinta, alias sosok jomlo (atau apapun istilah anda), karena dengan demikian anda akan mendapatkan asumsi analitis yang pasti objektif jauh dari unsur politis (kepentingan) dan subjektifitas, karena sosok jomlo terlepas dari cekikan romantisme, sehingga kondisi tersebut membawanya untuk dapat melihat suatu phenomena percintaan secara objektif dan mendalam.


Dalam dunia kedokteran bukan rahasia bila suatu kelemahan anggota badan seringkali terkompensasi dengan kekuatan ekstra badannya lainnya. Seperti orang buta biasanya mempunyai kemampuan indra mendengar dan meraba lebih kuat.

Begitupun dengan orang jomlo, ke-jomlo-annya akan memicu reaksi serabut neutron di otak tatkala menyimak prihal cinta, kualitas analisanya akan semakin meningkat tergantung seberapa lama dia men-jomlo, yang menjadikan saraf kognitif otaknya akan semakin terlatih pada sesuatu yang berhubungan dengan cinta.

Singel itu Sabar

Ditengah budaya mainstream pacaran sekarang ini, telinga ini bak sudah kebakaran dicemooh gara-gara status singel. Merepotkan memang, disinilah saya melihat bentuk dua kesabaran sekaligus. Yang pertama sabar terhadap kepedihan yakni gak punya pacar (karena toh manusia normal dan bersosialisasi dengan khalayak), dan yang kedua sabar yang justru lebih besar kadarnya yakni sabar dari kenikmatan.

Yang perlu diketahui bahwa sabar ialah kemampuan menahan atau menunda respon yang mampu dilakukan. Sebagai contoh: Seseorang bila diinjak kakinya oleh anak kecil dan dia mampu menahan emosinya dinamakan sabar, lain bila yang menginjaknya adalah pria bertubuh besar dan lebih kuat. yang seperti ini bukanlah dinamakan sabar.

Memang yang jadi tolok ukur sabar ialah ketika tangan tidak mampu lagi menjangkau, sehingga kita dipaksa untuk takluk, mengurut dada dan menelan bulat-bulat tanpa melakukan perlawanan, dilarang berkeluh kesah dsb. Padahal, sabar semacam ini hanyalah sabar dalam bentuk pertama, dan terbilang sabar berdosis rendah. Sementara sabar yang sebenarnya sering terlupakan dan berdosis tinggi ialah sabar menghadapi kenikmatan, camkan itu!: sabar mengahadapi kenikmatan!!!!!(galak).

Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen yang lebih banyak.

Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukp menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang bagagia Karen lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. ternyata kemampuan menunda kenikmatan ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) si anak.

Kesabaran akan kenikmatan inilah yang sering dipandang sebelah mata, urgensi nya kerap tidak dijadikan landasan dalam kehidupan. Contoh kecil adalah apa yang sering terjadi pada pasangan muda mudi. Ketika dirudung asmara, hati menjadi berbunga-bunga, keadaan menjadi sangat bahagia, dan Justru dalam keadaan seperti inilah yang harus diwaspadai, karena ketika itu kita sedang dihadapkan pada kesabaran menghadapi kenikmatan! Dan apabila tidak lulus menghadapinya, betapa banyak muda-mudi yang “tergelincir” dan mengakibatkan dampak penyesalan yang tidak kecil. Kegagalan bersabar jenis ini tak jarang membuahakn polemic yang berpotensi menghancurkan masa depan, memporak-porandakan cita-cita yang sesungguhnya sangatlah indah.

Rabu, 01 Juni 2011

Istri Nabi Muhammad Saw.

Tidak logis menilai negatif kepada Nabi Saw oleh karena poligami, tanpa melihat konteks budaya yang memang berbeda. Dan alasan konkrit tujuan pernikahan itu.
Tidak pantas berpoligami berdalih ingin meneladani Nabi tanpa tahu alasan. Bahkan tidak malu akan hukum yang wajib bagi Nabi namun terlarang bagi umatnya. seperti bangun malam, tidak menerima zakat, Beliau tidak batal meski tertidur.

Beliau menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah ra, Beliau membina keluarga bersamanya selama 25 tahun, lalu 3-4 tahun setelah meninggalnya Khadijah, Beliau baru menjalani kehidupan beristri lagi, dan Beliau wafat pada Umur 63 tahun.
Ini berarti Rasulullah beristri satu (monogami) selama 25 tahun, “terselang tiga tahun lebih” dan Beliau berpoligami selama 9 tahun.

Saudah binti Zam’ah ra. Seorang wanita tua, suaminya meninggal di perantauan (Etiopia) ia terpaksa kembali ke mekah menanggung beban kehidupan bersama anak-anaknya dengan risiko dipaksa murtad.

Hindun binti Abi Umayyah ra.(Ummu Salamah)., suaminya, Abdullah al-Makhzumi, yang juga anak pamannya tewas dalam perang uhud juga seorang tua. Sampai-sampai pada mulanya ummu salamah ra. menolak lamaran Rasul saw. Akan tetapi pada akhirnya ia bersedia menerima lamaran Rasul saw. Demi meraih kehormatan dipersunting pesuruh Allah dan demi anak-anaknya.

Ramlah, putri Abu Sufyan ra. Ia meninggalkan orangtuanya untuk berhijrah ke Habasyah(Etiopia) bersama suaminya, tetapi sang suami kemudian memeluk agama nasrani, disana dan menceraikannya sehingga ia hidup sendirian di perantauan, maka melalui Negus, Nabi Saw melamarnya dengan harapan mengangkatnya dari jurang penderitaan, dan menjalin hubungan dengan ayahnya, seorang tokoh utama musyrikin.
Huniyah binti Alharis ra. Putri kepala suku dan tawanan pasukan islam, Beliau menikahinya dan memerdekakannya, dengan harapan para tawanan memeluk islam. Huriyah sendiri memilih untuk menetap bersama Nabi saw, dan enggan kembali bersama ayahnya.

Hafshah putri Umar ra. Ketika suaminya wafat ayahnya “menawarkan” putrinya kepada Abu Bakar untuk dipersunting, tetapi yang ditawarinya tidak menyambut sehingga kepada Utsman, ia pun diam.

bersambung.

Senin, 23 Mei 2011

Seperti tetesan gerimis di jendela kaca

Sepulang dari ziarah di daerah banten, aku duduk bersampingan dengan pamanku Ahmad Fuad Ruhiyat. Disisi jendela bis, dia tampak merenungkan sesuatu. Benakku agak sedikit penasaran, lantas aku bertanya “mang dji_begitulah aku memanggilnya_ apa yang tengah kau pikirkan?”

“cep, bisakah kau lihat betapa indahnya tetesan air hujan yang berlarian membuat jalan sendiri di kaca jendela bis ini?”

“Yah, kulihat itu”, jawabku, “mereka grimis yang tengah asik mencari tempat yang rendah, meliuk-liuk kesana-kemari seperti ular, dan terkadang berjalan zig zag demi sampai kedasar, dan itulah sifat dasar air, mereka senantiasa mencari tempat yang rendah.”

“Seperti hidup”, mang dji menimpali perkataanku dengan posisi tanpa melihatku dan tetap mengarah kesisi jendela, dia meneruskan: “begitu juga manusia, manusia hidup, menginjak tanah dan menyusuri jalannya sendiri, meski terkadang jalan yang dia tempuh tidaklah selalu mulus ada saja suatu rintangan, cobaan, dan kegagalan”

“seperti tetesan gerimis itu kan?, nampaknya ada semacam debu dijendela yang membuatnya tidak meluncur lurus ke bawah kan?”

“betul, dan betapapun, tetesan gerimis itu tidaklah berhenti tetapi dia mencari jalan lain, kemanapun, sing penting dia sampai kebawah” jawabnya.

“Hahahaha aku suka perenungan mendalammu mang dji, nampaknya kau memang seorang filsuf yah… hahahaha”

“Ah kau berlebihan cep, tapi coba kau lihat cep, betapa ketika kita sedang meluncur dalam sebuah bis berkecepatan 60 km lalu kita melihat kesisi jendela, disana terdapat beraneka ragam phenomena yang kita lewatkan seperti mobil-mobil yang sibuk berlalu lalang, pepohonan yang penuh dengan kesabaran, juga trotoar yang Nampak kesepian.”

“of course I see that” kujawab dengan bahasa inggris biar rada keren yang kudapat dari film-film Hollywood. “aku pun sering merenungkan hal tersebut, aku berpikir bahwa betapa kita sering melihat suatu phenomena, kecepatan bis ini seperti menyibak pragmen-pragmen beraneka ragam dalam kehidupan di persada bumi ini, namun sayangnya, secepat sopir menancap gas, secepat itu pula aku melupakan phenomena tersebut, seolah semuanya hanya datang dan bergi begitu saja, semuanya Nampak seperti sesuatu yang tak berarti.”

“Aslamtu” mang dji menimpali dengan bahasa arab biar gak kalah keren yang dia dapat sewaktu kuliah di kairo. “yah mungkin perenunganmu selaras denganku, tapi aku ingin melihatnya lebih deskrip cep, aku melihat setiap kilasan dari sisi jendela ini adalah sebentuk eksistensi bahwa mereka ada, atau lebih tepatnya bahwasanya aneka citra yang kita saksikan benar-benar ada, dan jelas semua itu berbeda dengan kita, mereka mempunyai kesibukan, keluh kesah, suka duka atau dunia sendiri, like us. Tetapi meskipun berlainan dan berbeda dua hal yang sama, yakni mereka bermula dan berakhir dari sesuatu yang sama, persis seperti tetesan gerimis pada jendela kaca berkegemercikan dan mengalir mencari jalan, dan setiap tetesan yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang pada terpisah itu toh nantinya akan kembali menyatu pada suatu hamparan luas yang kita namakan laut.”

“dan memang benar adanya bahwa kematian adalah cita-cita?” aku menimpali, “lantas, apakah setiap jalan yang di telusuri tetesan gerimis itu akan abadi? Atau lewat begitu saja, lantas setiap jejaknya secara berangsur memudar diterpa cayaha mentari?.”

“Dan itulah gunanya menulis, andaikata setiap manusia menuliskan tentang apa yang dialaminya, seperti apa labirin kehidupannya, barangkali disetiap rak tidak hanya terdapat buku yang hanya ditulis oleh para sarjana, atau buku pelajaran yang membosankan, melainkan intrik-intrik kehidupan dan kesan-kesan yang berwarna-warni. Kau tahu Anne Frank cep? Dia terkenal justru setelah dia meninggal dunia, dia tak sempat mengecup indahnya kepopuleran atas buku hariannya sendiri. Betapapun, namanya senantiasa abadi harum semerbak ke seantero planet bumi.”

“aha… pemaparanmu seperti pematik bagiku mang dji, konklusi yang kudapat ialah jangan terlalu memikirkan Royalti, tepuk tangan untuk big bank baru terdengar setelah berjuta tahun peristiwa itu terjadi. dan apabila kita kembali pada pembahasan phenomena diluar jendela bis ini, betapa unik suatu tulisan, karena dengan tulisan kita bisa berkelana tanpa beranjak secenti pun. Dan nampaknya telaah mendalam pada tetesan gerimis di jendela kaca cukup menggambarkan seperti apa kehidupan.

“dan kita merupakan satu diantara tetesan gerimis itu”, mang dji mengakhiri dialog kami sembari kembali menatap ke sisi jendela, Nampak diwajahnya senyum simpul khasnya.

Minggu, 22 Mei 2011

Secret (Jostein Gaarder)

Tak lama setelah terjadi perang, dalam sebah vila bangsawan di Silkeborg, sebuah kota kecil di Denmark, hidup keluarga Kjoergaard yang kaya raya, yang baru saja memperkerjakan seorang gadis pelayan di rumah mereka. Nama gadis itu Lotte. Hanya itulah namanya, Karena dia yatim piatu. Usianya tak lebih dari enam belas atau tujuh belas tahun. Konon gadis itu sangat cantik, tak mengherankan jika anak lelaki satu-satunya dari keluarga Kjoergaard tak mampu melepaskan pandangan matanya saat Lotte sedang berkerja keras bagi keluarganya yang memeras tenaganya. Anak lelaki itu selalu mengikutinya ke segala sudut rumah dan, kendati usianya masih sangat muda, dia berhasil memikatnya ketika suatu hari gadis itu ada di ruang binatu utnuk merebus baju. Meski hanya dialkukan sekali, Lotte akhirnya hamil.


Selama tahun-tahun setelah kejadian itu, berbagai penjelasan muncul mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang binatu pada sore bencana itu. desas-desus mengatakan bahwa anak laki-laki itu_Morten, begitu namanya_memeperkosa gadis itu saat dia berdiri memuul-mukul pakaian, tetapi keluarga Kjoergaard dengan tegas mengatakan bahwa lotte lah yang berlaku tidak sennoh, bahwa dialah yang memikat Morten.

Keluarga itu kini membuat kesepakatan rahasia bagi si pelayan untuk memulai tugas baru di sebuah keluarga yang di tinggal di sebuah tempat terpencil di negeri itu. namun, beberapa bulan kemudian, ketika Lotte melahirkan seorang anak laki-laki, keluarga itu bersikeras mengambil si bayi karena di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan. Kendati memiliki banyak harta, keluarga besar Kjoergaard tidak memiliki banyak keturunan, tk setetes darah pun dari keluarga terhormat itu boleh disia-siakan. Lotte melancarkan perlawanan sejadi-jadinya. Dia menangis pilu ketika anaknya di renggut dari sisinya hanya beberapa minggu setelah kelahirannya. Secara materiil maupun moral, dia dianggap tidak layak untuk membesarkan anaknya. Walau bagaimanapun, bayinya itu tidak berayah.

Tentu saja Morten tidak memedulikan bayinya. Usianya masih terlalu muda untuk menjalankan tugas sebagai ayah, sementara orangtuanya terlalu tua untuk mengangkat si bayi sebagai anak mereka sendiri. Namun, Morten punya seorang paman yang tidak punya keturunan meski telah lama menikah. Dia dan istrinya akhirnya yang mengambil tanggung jawab atas si bayi laki-laki itu, yang dibaptis dengan nama Carsten.

Semakin lama, saat tumbuh semakin besar, Carsten sering memikirkan usia ayah dan ibunya saat dia dilahirkan. Ibunya pasti mendekati umur lima puluh tahunan, tetapi tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa Stine dan Jakob, begitu mereka dipanggil, bukanlah orangtua kandungnya. Pada hari ulang tahunnya, dia selalu mendapatkan sehelai kartu dari “Sepupu Morten”. Dan hingga saat menerima sakramen penguatan, dia mendapatkan hadiah Natal yang dikirimkan lewat pos. tentu saja tak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa sepupunya yang lebih tua delapan belas tahun itu sesungguhnya adalah ayah kandungnya. Rahasia itu tersimpan rapat, terutama bagi dirinya.

Jakob adalah kapten sebuah kapal dagang raksasa, dan ketika Carsten masih kecil, dia terkadang diizinkan menemani ayahnya berkelana ke dunia luar. Sebagai anak tunggal, hubungannya dengan kedua orangtuanya sangat erat. Di atas segala-galanya, kedua orangtuanya itu sangat mengasihinya. Namun, pada tahun terakhir sekolahnya, baik Stine maupun Jakob meninggal berturutan, hanya dalam hitungan bulan. Tiba-tiba Carsten sendirian di dunia, tanpa keluarga, karena semua kakek-neneknya juga telah meninggal. Namun, saat terbaring menunggu kematiannya, Jakob menceritakan kepada Carsten tentang kisah pelayan wanita di ruang binatu dan Sepupu Morten, yang sesungguhnya adalah ayah kandungnya.

Pada saat itu, Carsten sedikit sekali menjalin kontak dengan sepupunya; keduanya tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Ketika kemudian Carsten mulai belajar untuk mendapatkan gela M.A. di Universitas Arhus, suatu kali dia benar-benar mengalami kesulitan uang. Dalam keputusasaan, dia menghubungi Morten yang tentu sja tahu bahwa Carsten adalah anak kandungnya dan beranggapan hanya dirinya yang tahu tentang hal itu, setelah Stine dan Jakob meninggal.

Morten telah menjadi seorang konsultan kedokteran di Rumah Sakit Arhus. Dia menikah dengan Malene yang cantik, putrid seorang hakim Pengadilan Tinggi di Copernhagen, dan telah memiliki dua anak gadis yang menjadi anggota paduan suara gereja. Karena itulah, Morten tidak berminat melibatkan sepupunya itu dalam kehidupannya sebagai bangsawan tak bercela, karena menyadari benar latar belakang yang tak jelas dari anak laki-laki itu.

Tanpa membeberkan apa yang dia ketahui Carsten mengajukan pinjaman uang kepada sepepunya, atau lebih baik jika berupa semacam tunjangan sebesar lima atau sepuluh ribu kroner. Dia tahu benar sepupunya itu orang berada. Namun, tanpa basa-basi, morten menolak permintaannya, tanpa menghiraukan permohonan bantuan ala kadarnya dari mahasiswa bersahaja yang tengah menghadapi kesulitan itu dia menuangkan segelas malt whisky, melontarkan lelucon tentang masa lalu, kemudian mengulurkan uang lima ratus kroner dalam tangannya sebelum menyuruhnya pergi, sambil berbasa-basi mengatakan bahwa pemberian itu merupakan hadiah untuk kuliahnya. Celakanya, Carsten _ yang telah lama memendam kebencian terhadap ayah kandungnya karena telah menipunya selama bertahun-tahun_kini menyerang sepupunya dengan menatap lurus kematanya lalu berkata, “Tidakkah hina menolak permintaan anak kandungmu sendiri yang ingin meminjam barang beberapa ribu kroner? Barangkali lain kali akan bicara kepada Malene…….” Morten terkejut, tetapi Carsten telah membalikkan punggunya sambil berkata, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.


Setelah beberapa tahun kuliah yang terputus-putus, Carsten bertemu Kristine yang sejak itu menjadi satu-satunya perhatian dalam hidupnya. Selama beberapat tahun, hanya dua kali dia menghubungi Morten dan Malene, dan Morten lah yang selalu menjawab teleponnya. Tentu saja Carsten tidak lagi meminta uang kepada sepupunya itu. walau demikian sekali dua kali dia menerima cek dari Morten, dan ketika dia dan Kristine menikah, mereka mendapatkan selembar cek sebesar lima ribbu kroner dari sepupu Morten dan Malene, serta Maren dan Mathilde. Namun, hal ini tidak mampu meredakan kebencian Carsten terhadap ayah kandungnya sendiri, dan ketika mereka menikah, dia memutuskan menggunakan nama keluarga Kristine, yang tentu sja menerimanya dengan hati terbuka.


Carsten mencintai Kristine, dan sejak pertemuannya, dia tidak pernah berpaling darinya. Namun jika takdir bicara, kehati-hatian manusia tak lagi berdaya. Carsten memiliki tanda lahir yang mengerikan di lehernya, dan ketika secara mendadak tanda lahir itu mengeluarkan darah, Kristine mendesak agar dia pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Dokter setempat mengangkat tanda lahir itu dan secara rutin mengirimkannya untuk dianalisis ke Rumah Sakit Arhus. Saying sekali hasil biopsy jaringannya tidak pernah dikambalikan ke dokter pribadi Carsten. Minggu dan bulan berlalu tanpa pemberitahuan baik dari sang dokter maupun rumah sakit, membuat Carsten dan kristine tidak lagi memikirkan tanda lahir itu. namun, musim semi berikutnya. Carsten jatuh sakit, dia didiagnosis mengidap kanker yang telah menyebar, dan hal ini seketika dikaitkan pada biopsy jaringan yang telah dikirmkan ke rumah sakit beberapa bulan sebelumnya.


Lama sesudahnya, rumah sakit mengakui bahwa sampel dari Carsten telah diterima dan dianalisis, dan juga telah didiagnosis sebagai melanoma ganas, tetapi misteri tentang mengapa dokter Carsten tidak diberi tahu hasilnya masih menjadi tanda Tanya. Secara resmi, yang bertanggung jawab adlah konsultan, Morten Kjoergaard. Namun, sepertinya dia tidak pernah punya kaitan apa pun dengan analisis itu sendiri. Oleh karenanya, diperkirakan bahwa kasus ini diakibatkan oleh kecerobohan salah seorang teknisi laboratorium patalogi. Surat kabar setempat menulis sebuah artikel pendek mengenai “konsultan yang tidak diberi tahu” dan karenanya, “dirampas kesempatannya untuk menyelamatkan sepupunya sendiri”. Namun, masalah tersebut dengan cept terlupakan.

Carsten hanya hidup beberapa minggu setelah jatuh sakit. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan dirawat dengan sabaik-baiknya oleh Kristine dan orangtuanya, baik secara isik maupun spiritual. Bukan itu saja. Seorang perawat_yang segera kemudian dating setiap hari ke rumah mereka_memberian bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan. Namanya Lotte. Ketika tahu di mana dulunya tanda lahir Carsten itu terletka, Lotte memeriksa ulang tanggal kelahiran Carsten. Ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dia meninggal, tetapi sejak saat itu, sang perawat terus-menerus menjaga di samping tempat tidurnya dan dengan penuh kasih menggenggam tangannya hingga saat-saat berakhir. Kata terakhir Carsten saat membuka matanya dan melihat Lotte serta Kristine untuk terakhir kalinya adalah, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.

Senin, 16 Mei 2011

Potret Diri

Bila ada pikiran tentang sosok biasa, mudah ditemui dimana-mana, mungkin lelaki dengan panggilan azir ini cocok akan gelar tersebut.

Tiada yang istimewa bila menilik fisik, materi, ekspektasi, idealisme, kultur, dan intelegensi, lebih lagi se balkon prestasi. Yang ada malah stimulus yang tidak terbilang artistik seperti sesekali melihat gadis yang bohay dan bersiul, berucap kata-kata kotor seperti dapur, genteng rumah, dan sering kejadian bangun subuh jam 7 WIB, menyangka malah tengah terang bulan. Namun meski tertatih-tatih setidaknya dalam benak ini ada 'niat' untuk disiplin pada waktu, rajin belajar, continue bangun subuh, dan giat shalat berjamaah di mesjid dengan simpulan menjadi lebih baik dari ke hari ke hari. amien.

sosok yang biasa dan kebanyakan ini hanya ingin bertutur tentang hal remeh yang mudah-mudahan ada yang berkenan membaca potret diri dari seorang manusia yang sejatinya senang menjalin persahabatan, senang mendapat perhatian, senang diselimuti pujian, senang dianggap penting, dan kadang-kadang senang di hujam kritikan. sebagai manusia yang diciptakan beda meski tampak biasa, aku butuh mata untuk melihat posturku, telinga untuk mendengar idiologi atau keluh kesahku, dan hati untuk meraba perasaanku. dan umtuk alasan sederhana itulah aku membuat blog yang dinamai panggilan nama pribadiku di kampung: "cep Mumu".

Bukan atas dasar undervalue aku berstatemen seperti menilai diriku apa adanya dan terkesan over interospeksi, namun aku hidup bukan main-main, juga tidak diciptakan untuk main-main, jadi aku gak rela bila harus mengkamuflase dengan memperkenalkan diri dan menampilkan sesuatu yang tak ada dalam diriku sendiri. maka perkenankan aku mempotret diri ini apa adanya, karena menurutku satu-satunya cara kita menghargai diri kita sendiri ialah dengan menampilkan diri secara apa adanya.

mungkin satu-satunya yang istimewa dariku adalah namaku sendiri: Abdul Wahid Muhajir,
itupun pemberian orang tuaku yang pada mulanya Abdul Wahid Muharam, karena aku dilahirkan bertepatan pada awal tahun Hijriyah tepatnya di bulan Muharam. tapi karena dirasa kurang artistik. ayah ibuku memutuskan untuk menggantinya menjadi Muhajir. terlintas nama tersebut mengingatkan akan nama Kaum Muhajirin di masa Rasulullah saw. betul adanya, tetapi apabila diruntunkan dari pelbagai sisi namaku bisa di artikan pada tiga segi.

- Muhajir yang merupakan Eufemisme dari Muharam, karena kata Muharam terkesan bernada kakofoni.
- Muhajir, merupakan suatu kelompok pengikut Rasulullah
- secara leksikal Muhajir berarti "orang yang berpindah". orang tuaku berharap aku menjadi sosok yang berpindah -ups bukan berarti orang yang nomaden-, tetapi orang yang berpindah dari suatu kebaikan ke kebaikan yang lain.
- bila disambungkan dengan kata sebelumnya: "Abdul Wahid". kata muhajir bermakna: "seorang hamba Muhammad", karena kata Muhajir disana dimaksudkan pada sesosok yang telah berhijrah dari Mekkah ke madinah yang tidak lain adalah Baginda Muhammad Saw.

bagaimana kawan, betapa elegan nama yang mempunyai artikulasi dan multitafsir ini kan.. heu heu heu heu sedikit narsis maaf.

Aku dilahirkan didaerah Ciparay kabupaten Bandung. anak ketujuh dari tujuh bersaudara, tujuh bersaudari tepatnya karena aku punya lima kakak perempuan dan hanya satu laki-laki. aku dibesarkan dalam keluarga yang terbilang religius. rumahku tepat kompleks pondok pesantren, ayahku merupakan keluarga besar sekaligus staf pengajar yang suka disebut ustad. dalam lingkungan seperti itu, otomatis kecenderungan untuk mempelajari dan memperdalam agama menjadi semacam mainstream, hingga orang tuaku sejak dini mendidikku dengan cara yang terbilang Konservatif, maksud saya pendidikan pada anak dengan cara mengarahkan anaknya untuk lebih berkecenderungan pada agama karena kultur pesantren yang sebagaimana kita tahu agak terkesan hieraki, bahkan dinasti.
Di rumah, semenjak MI (madrasah islamiah) sampai Mts, aku sudah disuguhi aneka kitab kuning, yakni buku-buku kelasik karangan cendikia yang mayoritas berasal dari arab, tetapi selama itu pula aku tidak benar-benar fokus mempelajarinya. orang bilang itu dikarenakan aku berada di kandang sehingga wajar bila nakal, dikarenakan setatusku bisa disebut "pangeran" menjadikanku kebal terhadap hukum pesantren, yang tak lain adalah rumahku sendiri.
kepergok, ayahku pun kapok menyimpan anak dirumahnya, maka sesuai dengan nama Muhajir akupun mulai jadi nomaden alias jarang tinggal dirumah sejak itu.
aku dilarikan ke sebuah pesantren di tasikmalaya jawa barat, disanalah baru antusiasku mempelajari ilmu agama mulai mekar, disana pula kali pertama aku mengerti tentang ilmu gramatikal seperti Nahwu, sharap, atau fiqh.
bersama suka citanya, ada yang menarik ketika mesantren disana. di tahun 2002 ketika terjadi serangan teroris yang menghancurkan dua gedung WTC di amerika serikat. aku menontonnya di televisi disebuah warung, diberitkan aksi teror itu direncanakan oleh pemimpin al Qaeda Usamah bin Laden. ketika itu aku tidak tahu seperti apa wajah Osama osama itu, namun yang terbersit dipikiranku ialah, betapa berani orang itu melakukan aksi yang merenggut ribuan nyawa, bahkan ke negara yang sudah terkenal sebagai negara adikuasa.
entahlah, tadinya mungkin ini hanya idiom ku saja, tapi mendadak ketika suasana tragedi itu masih hangat, salah seorang santri mendatangai satu persatu kamar kami sambil menawarkan baju bergambar Osama bin laden. aku merasa terkejut dan kagum melihat seorang tua dengan sorban melilit di kepalanya berjanggut panjang, serentak aku membelinya, dan memakainya dengan penuh bangganya.
sejujurnya, ketika itu aku tidak tahu menahu tentang dampak baik dan buruknya aksi teror yang dilakukan osama, dan bukan atas dasar itu kekagumanku muncul hingga rela mengeluarkan kocek untuk sekedar membeli kaosnya. tetapi yang membuatku terkesan tidaklah lain karena sorban dan janggutnya saja tidak lebih. karena kuakui pada usia itu,_sekitar 16-17 tahun, rasa himmahku pada setiap hal berbau arab begitu kuat, seakan apa-apa yang berinisial arab adalah bagus, shaleh dan keren, karena kalau menyangkut aksinya, batinku pun merasa tidak menyetujui, ini terbukti ketika suatu waktu aku mau pulang ke rumah dan sengaja memakai kaus osama itu, ada seorang teman yang memberi saran: "hati-hati kalau pakai baju itu, nanti ditembak tentara amerika". sontak aku kaget dan dengan serentak mengganti baju tersebut tidak jadi memakainya. dalam bebakku berkata: "wah tidak gaya dong kalo harus mati oleh karena ngefans sama sosok yang aku kagumi dari cara pakainnya saja".

setelah saya menginjak bangku kuliah barulah tahu akan seluk beluk lumayan mendetil tentang apa itu teroris, apa itu paham literal dan apa itu idiologi liberal. darisanalah aku mulai melahap aneka pemikiran yang bisa dikategorikan provokatif, kontroversial atau bila disimpulkan ialah "nyeleneh". jadinya idiologiku dalam mengunyah aneka informasi lumayan terasah untuk tidak cepat menyimpulkan, seperti tidak gampang menyimpulkan bahwa seorang yang bersorban itu adalah seorang saleh, hingga tidak kaget bila mendapati orang bersorban tetapi akhlaknya semerawut. seorang yang berentenan gelar itu orang yang pintar, tidak silau dengan mereka toh di negeri tercinta ini pendidikan ibarat pasar loak, dan seorang yang berkata kontroversial itu negatif, karena setiap hal yang dahsyat selalu ditentang paling tidak ketika kali pertama di ucapkan. paling tidak aku senantiasa menancabkan ada ribuan rasiah yang terdapat dalam diri manusia sebagaimana yang dikatakan Imanuel kant bahwa manusia ialah "the Man unknow". hingga sebagaimana pepatah "fisik tidaklah mewakilkan seseorang" begitu jelas adanya. dan tentunya tidak cukup sehari dua hari lebih lagi jika hanya dari kabar angin semata menyimpulkan seperti apa seseorang itu. makanya, akupun merasa rasa Fans pada Osama pun mulai mengendur seiring berjalannya hari dan bertambahnya pengetahuanku, karena yang kutahu terlepas dari simpang siur status osama, aku ambil yang maraknya saja, osama hanyalah pigur jangkung berfaham literal dan berjanggut yang diwaspadai Amerika.
Atas dasar Epistimologi itu, aku selalu waspada menelisik seseorang hanya dari sekilas saja, hingga tak ayal terjadi beberapa hal yang rada ganjil dalam diriku seperti berkeinginan berakal M. Quraish Shihab tetapi ber style Jon bon jovi. sungguh terasa ganjil yah?, di otak kiri sebagaimana kata Roger Sperry bahwa didalamnya mencakup memori semacam matematika disana aku menyimpan sosok smart Pak Quraish dengan tafsirnya, dan di otak kanan yang mencakup seni, disna aku menyimpan Kang Jon dengan stylish dan karyanya. huehehehehehe

pokonya, salam kenal dari azir kita akan saling mengenal, dan terimakasih sudah berkunjung.