Movies

Senin, 23 Mei 2011

Seperti tetesan gerimis di jendela kaca

Sepulang dari ziarah di daerah banten, aku duduk bersampingan dengan pamanku Ahmad Fuad Ruhiyat. Disisi jendela bis, dia tampak merenungkan sesuatu. Benakku agak sedikit penasaran, lantas aku bertanya “mang dji_begitulah aku memanggilnya_ apa yang tengah kau pikirkan?”

“cep, bisakah kau lihat betapa indahnya tetesan air hujan yang berlarian membuat jalan sendiri di kaca jendela bis ini?”

“Yah, kulihat itu”, jawabku, “mereka grimis yang tengah asik mencari tempat yang rendah, meliuk-liuk kesana-kemari seperti ular, dan terkadang berjalan zig zag demi sampai kedasar, dan itulah sifat dasar air, mereka senantiasa mencari tempat yang rendah.”

“Seperti hidup”, mang dji menimpali perkataanku dengan posisi tanpa melihatku dan tetap mengarah kesisi jendela, dia meneruskan: “begitu juga manusia, manusia hidup, menginjak tanah dan menyusuri jalannya sendiri, meski terkadang jalan yang dia tempuh tidaklah selalu mulus ada saja suatu rintangan, cobaan, dan kegagalan”

“seperti tetesan gerimis itu kan?, nampaknya ada semacam debu dijendela yang membuatnya tidak meluncur lurus ke bawah kan?”

“betul, dan betapapun, tetesan gerimis itu tidaklah berhenti tetapi dia mencari jalan lain, kemanapun, sing penting dia sampai kebawah” jawabnya.

“Hahahaha aku suka perenungan mendalammu mang dji, nampaknya kau memang seorang filsuf yah… hahahaha”

“Ah kau berlebihan cep, tapi coba kau lihat cep, betapa ketika kita sedang meluncur dalam sebuah bis berkecepatan 60 km lalu kita melihat kesisi jendela, disana terdapat beraneka ragam phenomena yang kita lewatkan seperti mobil-mobil yang sibuk berlalu lalang, pepohonan yang penuh dengan kesabaran, juga trotoar yang Nampak kesepian.”

“of course I see that” kujawab dengan bahasa inggris biar rada keren yang kudapat dari film-film Hollywood. “aku pun sering merenungkan hal tersebut, aku berpikir bahwa betapa kita sering melihat suatu phenomena, kecepatan bis ini seperti menyibak pragmen-pragmen beraneka ragam dalam kehidupan di persada bumi ini, namun sayangnya, secepat sopir menancap gas, secepat itu pula aku melupakan phenomena tersebut, seolah semuanya hanya datang dan bergi begitu saja, semuanya Nampak seperti sesuatu yang tak berarti.”

“Aslamtu” mang dji menimpali dengan bahasa arab biar gak kalah keren yang dia dapat sewaktu kuliah di kairo. “yah mungkin perenunganmu selaras denganku, tapi aku ingin melihatnya lebih deskrip cep, aku melihat setiap kilasan dari sisi jendela ini adalah sebentuk eksistensi bahwa mereka ada, atau lebih tepatnya bahwasanya aneka citra yang kita saksikan benar-benar ada, dan jelas semua itu berbeda dengan kita, mereka mempunyai kesibukan, keluh kesah, suka duka atau dunia sendiri, like us. Tetapi meskipun berlainan dan berbeda dua hal yang sama, yakni mereka bermula dan berakhir dari sesuatu yang sama, persis seperti tetesan gerimis pada jendela kaca berkegemercikan dan mengalir mencari jalan, dan setiap tetesan yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang pada terpisah itu toh nantinya akan kembali menyatu pada suatu hamparan luas yang kita namakan laut.”

“dan memang benar adanya bahwa kematian adalah cita-cita?” aku menimpali, “lantas, apakah setiap jalan yang di telusuri tetesan gerimis itu akan abadi? Atau lewat begitu saja, lantas setiap jejaknya secara berangsur memudar diterpa cayaha mentari?.”

“Dan itulah gunanya menulis, andaikata setiap manusia menuliskan tentang apa yang dialaminya, seperti apa labirin kehidupannya, barangkali disetiap rak tidak hanya terdapat buku yang hanya ditulis oleh para sarjana, atau buku pelajaran yang membosankan, melainkan intrik-intrik kehidupan dan kesan-kesan yang berwarna-warni. Kau tahu Anne Frank cep? Dia terkenal justru setelah dia meninggal dunia, dia tak sempat mengecup indahnya kepopuleran atas buku hariannya sendiri. Betapapun, namanya senantiasa abadi harum semerbak ke seantero planet bumi.”

“aha… pemaparanmu seperti pematik bagiku mang dji, konklusi yang kudapat ialah jangan terlalu memikirkan Royalti, tepuk tangan untuk big bank baru terdengar setelah berjuta tahun peristiwa itu terjadi. dan apabila kita kembali pada pembahasan phenomena diluar jendela bis ini, betapa unik suatu tulisan, karena dengan tulisan kita bisa berkelana tanpa beranjak secenti pun. Dan nampaknya telaah mendalam pada tetesan gerimis di jendela kaca cukup menggambarkan seperti apa kehidupan.

“dan kita merupakan satu diantara tetesan gerimis itu”, mang dji mengakhiri dialog kami sembari kembali menatap ke sisi jendela, Nampak diwajahnya senyum simpul khasnya.

Minggu, 22 Mei 2011

Secret (Jostein Gaarder)

Tak lama setelah terjadi perang, dalam sebah vila bangsawan di Silkeborg, sebuah kota kecil di Denmark, hidup keluarga Kjoergaard yang kaya raya, yang baru saja memperkerjakan seorang gadis pelayan di rumah mereka. Nama gadis itu Lotte. Hanya itulah namanya, Karena dia yatim piatu. Usianya tak lebih dari enam belas atau tujuh belas tahun. Konon gadis itu sangat cantik, tak mengherankan jika anak lelaki satu-satunya dari keluarga Kjoergaard tak mampu melepaskan pandangan matanya saat Lotte sedang berkerja keras bagi keluarganya yang memeras tenaganya. Anak lelaki itu selalu mengikutinya ke segala sudut rumah dan, kendati usianya masih sangat muda, dia berhasil memikatnya ketika suatu hari gadis itu ada di ruang binatu utnuk merebus baju. Meski hanya dialkukan sekali, Lotte akhirnya hamil.


Selama tahun-tahun setelah kejadian itu, berbagai penjelasan muncul mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang binatu pada sore bencana itu. desas-desus mengatakan bahwa anak laki-laki itu_Morten, begitu namanya_memeperkosa gadis itu saat dia berdiri memuul-mukul pakaian, tetapi keluarga Kjoergaard dengan tegas mengatakan bahwa lotte lah yang berlaku tidak sennoh, bahwa dialah yang memikat Morten.

Keluarga itu kini membuat kesepakatan rahasia bagi si pelayan untuk memulai tugas baru di sebuah keluarga yang di tinggal di sebuah tempat terpencil di negeri itu. namun, beberapa bulan kemudian, ketika Lotte melahirkan seorang anak laki-laki, keluarga itu bersikeras mengambil si bayi karena di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan. Kendati memiliki banyak harta, keluarga besar Kjoergaard tidak memiliki banyak keturunan, tk setetes darah pun dari keluarga terhormat itu boleh disia-siakan. Lotte melancarkan perlawanan sejadi-jadinya. Dia menangis pilu ketika anaknya di renggut dari sisinya hanya beberapa minggu setelah kelahirannya. Secara materiil maupun moral, dia dianggap tidak layak untuk membesarkan anaknya. Walau bagaimanapun, bayinya itu tidak berayah.

Tentu saja Morten tidak memedulikan bayinya. Usianya masih terlalu muda untuk menjalankan tugas sebagai ayah, sementara orangtuanya terlalu tua untuk mengangkat si bayi sebagai anak mereka sendiri. Namun, Morten punya seorang paman yang tidak punya keturunan meski telah lama menikah. Dia dan istrinya akhirnya yang mengambil tanggung jawab atas si bayi laki-laki itu, yang dibaptis dengan nama Carsten.

Semakin lama, saat tumbuh semakin besar, Carsten sering memikirkan usia ayah dan ibunya saat dia dilahirkan. Ibunya pasti mendekati umur lima puluh tahunan, tetapi tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa Stine dan Jakob, begitu mereka dipanggil, bukanlah orangtua kandungnya. Pada hari ulang tahunnya, dia selalu mendapatkan sehelai kartu dari “Sepupu Morten”. Dan hingga saat menerima sakramen penguatan, dia mendapatkan hadiah Natal yang dikirimkan lewat pos. tentu saja tak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa sepupunya yang lebih tua delapan belas tahun itu sesungguhnya adalah ayah kandungnya. Rahasia itu tersimpan rapat, terutama bagi dirinya.

Jakob adalah kapten sebuah kapal dagang raksasa, dan ketika Carsten masih kecil, dia terkadang diizinkan menemani ayahnya berkelana ke dunia luar. Sebagai anak tunggal, hubungannya dengan kedua orangtuanya sangat erat. Di atas segala-galanya, kedua orangtuanya itu sangat mengasihinya. Namun, pada tahun terakhir sekolahnya, baik Stine maupun Jakob meninggal berturutan, hanya dalam hitungan bulan. Tiba-tiba Carsten sendirian di dunia, tanpa keluarga, karena semua kakek-neneknya juga telah meninggal. Namun, saat terbaring menunggu kematiannya, Jakob menceritakan kepada Carsten tentang kisah pelayan wanita di ruang binatu dan Sepupu Morten, yang sesungguhnya adalah ayah kandungnya.

Pada saat itu, Carsten sedikit sekali menjalin kontak dengan sepupunya; keduanya tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Ketika kemudian Carsten mulai belajar untuk mendapatkan gela M.A. di Universitas Arhus, suatu kali dia benar-benar mengalami kesulitan uang. Dalam keputusasaan, dia menghubungi Morten yang tentu sja tahu bahwa Carsten adalah anak kandungnya dan beranggapan hanya dirinya yang tahu tentang hal itu, setelah Stine dan Jakob meninggal.

Morten telah menjadi seorang konsultan kedokteran di Rumah Sakit Arhus. Dia menikah dengan Malene yang cantik, putrid seorang hakim Pengadilan Tinggi di Copernhagen, dan telah memiliki dua anak gadis yang menjadi anggota paduan suara gereja. Karena itulah, Morten tidak berminat melibatkan sepupunya itu dalam kehidupannya sebagai bangsawan tak bercela, karena menyadari benar latar belakang yang tak jelas dari anak laki-laki itu.

Tanpa membeberkan apa yang dia ketahui Carsten mengajukan pinjaman uang kepada sepepunya, atau lebih baik jika berupa semacam tunjangan sebesar lima atau sepuluh ribu kroner. Dia tahu benar sepupunya itu orang berada. Namun, tanpa basa-basi, morten menolak permintaannya, tanpa menghiraukan permohonan bantuan ala kadarnya dari mahasiswa bersahaja yang tengah menghadapi kesulitan itu dia menuangkan segelas malt whisky, melontarkan lelucon tentang masa lalu, kemudian mengulurkan uang lima ratus kroner dalam tangannya sebelum menyuruhnya pergi, sambil berbasa-basi mengatakan bahwa pemberian itu merupakan hadiah untuk kuliahnya. Celakanya, Carsten _ yang telah lama memendam kebencian terhadap ayah kandungnya karena telah menipunya selama bertahun-tahun_kini menyerang sepupunya dengan menatap lurus kematanya lalu berkata, “Tidakkah hina menolak permintaan anak kandungmu sendiri yang ingin meminjam barang beberapa ribu kroner? Barangkali lain kali akan bicara kepada Malene…….” Morten terkejut, tetapi Carsten telah membalikkan punggunya sambil berkata, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.


Setelah beberapa tahun kuliah yang terputus-putus, Carsten bertemu Kristine yang sejak itu menjadi satu-satunya perhatian dalam hidupnya. Selama beberapat tahun, hanya dua kali dia menghubungi Morten dan Malene, dan Morten lah yang selalu menjawab teleponnya. Tentu saja Carsten tidak lagi meminta uang kepada sepupunya itu. walau demikian sekali dua kali dia menerima cek dari Morten, dan ketika dia dan Kristine menikah, mereka mendapatkan selembar cek sebesar lima ribbu kroner dari sepupu Morten dan Malene, serta Maren dan Mathilde. Namun, hal ini tidak mampu meredakan kebencian Carsten terhadap ayah kandungnya sendiri, dan ketika mereka menikah, dia memutuskan menggunakan nama keluarga Kristine, yang tentu sja menerimanya dengan hati terbuka.


Carsten mencintai Kristine, dan sejak pertemuannya, dia tidak pernah berpaling darinya. Namun jika takdir bicara, kehati-hatian manusia tak lagi berdaya. Carsten memiliki tanda lahir yang mengerikan di lehernya, dan ketika secara mendadak tanda lahir itu mengeluarkan darah, Kristine mendesak agar dia pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Dokter setempat mengangkat tanda lahir itu dan secara rutin mengirimkannya untuk dianalisis ke Rumah Sakit Arhus. Saying sekali hasil biopsy jaringannya tidak pernah dikambalikan ke dokter pribadi Carsten. Minggu dan bulan berlalu tanpa pemberitahuan baik dari sang dokter maupun rumah sakit, membuat Carsten dan kristine tidak lagi memikirkan tanda lahir itu. namun, musim semi berikutnya. Carsten jatuh sakit, dia didiagnosis mengidap kanker yang telah menyebar, dan hal ini seketika dikaitkan pada biopsy jaringan yang telah dikirmkan ke rumah sakit beberapa bulan sebelumnya.


Lama sesudahnya, rumah sakit mengakui bahwa sampel dari Carsten telah diterima dan dianalisis, dan juga telah didiagnosis sebagai melanoma ganas, tetapi misteri tentang mengapa dokter Carsten tidak diberi tahu hasilnya masih menjadi tanda Tanya. Secara resmi, yang bertanggung jawab adlah konsultan, Morten Kjoergaard. Namun, sepertinya dia tidak pernah punya kaitan apa pun dengan analisis itu sendiri. Oleh karenanya, diperkirakan bahwa kasus ini diakibatkan oleh kecerobohan salah seorang teknisi laboratorium patalogi. Surat kabar setempat menulis sebuah artikel pendek mengenai “konsultan yang tidak diberi tahu” dan karenanya, “dirampas kesempatannya untuk menyelamatkan sepupunya sendiri”. Namun, masalah tersebut dengan cept terlupakan.

Carsten hanya hidup beberapa minggu setelah jatuh sakit. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan dirawat dengan sabaik-baiknya oleh Kristine dan orangtuanya, baik secara isik maupun spiritual. Bukan itu saja. Seorang perawat_yang segera kemudian dating setiap hari ke rumah mereka_memberian bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan. Namanya Lotte. Ketika tahu di mana dulunya tanda lahir Carsten itu terletka, Lotte memeriksa ulang tanggal kelahiran Carsten. Ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dia meninggal, tetapi sejak saat itu, sang perawat terus-menerus menjaga di samping tempat tidurnya dan dengan penuh kasih menggenggam tangannya hingga saat-saat berakhir. Kata terakhir Carsten saat membuka matanya dan melihat Lotte serta Kristine untuk terakhir kalinya adalah, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.

Senin, 16 Mei 2011

Potret Diri

Bila ada pikiran tentang sosok biasa, mudah ditemui dimana-mana, mungkin lelaki dengan panggilan azir ini cocok akan gelar tersebut.

Tiada yang istimewa bila menilik fisik, materi, ekspektasi, idealisme, kultur, dan intelegensi, lebih lagi se balkon prestasi. Yang ada malah stimulus yang tidak terbilang artistik seperti sesekali melihat gadis yang bohay dan bersiul, berucap kata-kata kotor seperti dapur, genteng rumah, dan sering kejadian bangun subuh jam 7 WIB, menyangka malah tengah terang bulan. Namun meski tertatih-tatih setidaknya dalam benak ini ada 'niat' untuk disiplin pada waktu, rajin belajar, continue bangun subuh, dan giat shalat berjamaah di mesjid dengan simpulan menjadi lebih baik dari ke hari ke hari. amien.

sosok yang biasa dan kebanyakan ini hanya ingin bertutur tentang hal remeh yang mudah-mudahan ada yang berkenan membaca potret diri dari seorang manusia yang sejatinya senang menjalin persahabatan, senang mendapat perhatian, senang diselimuti pujian, senang dianggap penting, dan kadang-kadang senang di hujam kritikan. sebagai manusia yang diciptakan beda meski tampak biasa, aku butuh mata untuk melihat posturku, telinga untuk mendengar idiologi atau keluh kesahku, dan hati untuk meraba perasaanku. dan umtuk alasan sederhana itulah aku membuat blog yang dinamai panggilan nama pribadiku di kampung: "cep Mumu".

Bukan atas dasar undervalue aku berstatemen seperti menilai diriku apa adanya dan terkesan over interospeksi, namun aku hidup bukan main-main, juga tidak diciptakan untuk main-main, jadi aku gak rela bila harus mengkamuflase dengan memperkenalkan diri dan menampilkan sesuatu yang tak ada dalam diriku sendiri. maka perkenankan aku mempotret diri ini apa adanya, karena menurutku satu-satunya cara kita menghargai diri kita sendiri ialah dengan menampilkan diri secara apa adanya.

mungkin satu-satunya yang istimewa dariku adalah namaku sendiri: Abdul Wahid Muhajir,
itupun pemberian orang tuaku yang pada mulanya Abdul Wahid Muharam, karena aku dilahirkan bertepatan pada awal tahun Hijriyah tepatnya di bulan Muharam. tapi karena dirasa kurang artistik. ayah ibuku memutuskan untuk menggantinya menjadi Muhajir. terlintas nama tersebut mengingatkan akan nama Kaum Muhajirin di masa Rasulullah saw. betul adanya, tetapi apabila diruntunkan dari pelbagai sisi namaku bisa di artikan pada tiga segi.

- Muhajir yang merupakan Eufemisme dari Muharam, karena kata Muharam terkesan bernada kakofoni.
- Muhajir, merupakan suatu kelompok pengikut Rasulullah
- secara leksikal Muhajir berarti "orang yang berpindah". orang tuaku berharap aku menjadi sosok yang berpindah -ups bukan berarti orang yang nomaden-, tetapi orang yang berpindah dari suatu kebaikan ke kebaikan yang lain.
- bila disambungkan dengan kata sebelumnya: "Abdul Wahid". kata muhajir bermakna: "seorang hamba Muhammad", karena kata Muhajir disana dimaksudkan pada sesosok yang telah berhijrah dari Mekkah ke madinah yang tidak lain adalah Baginda Muhammad Saw.

bagaimana kawan, betapa elegan nama yang mempunyai artikulasi dan multitafsir ini kan.. heu heu heu heu sedikit narsis maaf.

Aku dilahirkan didaerah Ciparay kabupaten Bandung. anak ketujuh dari tujuh bersaudara, tujuh bersaudari tepatnya karena aku punya lima kakak perempuan dan hanya satu laki-laki. aku dibesarkan dalam keluarga yang terbilang religius. rumahku tepat kompleks pondok pesantren, ayahku merupakan keluarga besar sekaligus staf pengajar yang suka disebut ustad. dalam lingkungan seperti itu, otomatis kecenderungan untuk mempelajari dan memperdalam agama menjadi semacam mainstream, hingga orang tuaku sejak dini mendidikku dengan cara yang terbilang Konservatif, maksud saya pendidikan pada anak dengan cara mengarahkan anaknya untuk lebih berkecenderungan pada agama karena kultur pesantren yang sebagaimana kita tahu agak terkesan hieraki, bahkan dinasti.
Di rumah, semenjak MI (madrasah islamiah) sampai Mts, aku sudah disuguhi aneka kitab kuning, yakni buku-buku kelasik karangan cendikia yang mayoritas berasal dari arab, tetapi selama itu pula aku tidak benar-benar fokus mempelajarinya. orang bilang itu dikarenakan aku berada di kandang sehingga wajar bila nakal, dikarenakan setatusku bisa disebut "pangeran" menjadikanku kebal terhadap hukum pesantren, yang tak lain adalah rumahku sendiri.
kepergok, ayahku pun kapok menyimpan anak dirumahnya, maka sesuai dengan nama Muhajir akupun mulai jadi nomaden alias jarang tinggal dirumah sejak itu.
aku dilarikan ke sebuah pesantren di tasikmalaya jawa barat, disanalah baru antusiasku mempelajari ilmu agama mulai mekar, disana pula kali pertama aku mengerti tentang ilmu gramatikal seperti Nahwu, sharap, atau fiqh.
bersama suka citanya, ada yang menarik ketika mesantren disana. di tahun 2002 ketika terjadi serangan teroris yang menghancurkan dua gedung WTC di amerika serikat. aku menontonnya di televisi disebuah warung, diberitkan aksi teror itu direncanakan oleh pemimpin al Qaeda Usamah bin Laden. ketika itu aku tidak tahu seperti apa wajah Osama osama itu, namun yang terbersit dipikiranku ialah, betapa berani orang itu melakukan aksi yang merenggut ribuan nyawa, bahkan ke negara yang sudah terkenal sebagai negara adikuasa.
entahlah, tadinya mungkin ini hanya idiom ku saja, tapi mendadak ketika suasana tragedi itu masih hangat, salah seorang santri mendatangai satu persatu kamar kami sambil menawarkan baju bergambar Osama bin laden. aku merasa terkejut dan kagum melihat seorang tua dengan sorban melilit di kepalanya berjanggut panjang, serentak aku membelinya, dan memakainya dengan penuh bangganya.
sejujurnya, ketika itu aku tidak tahu menahu tentang dampak baik dan buruknya aksi teror yang dilakukan osama, dan bukan atas dasar itu kekagumanku muncul hingga rela mengeluarkan kocek untuk sekedar membeli kaosnya. tetapi yang membuatku terkesan tidaklah lain karena sorban dan janggutnya saja tidak lebih. karena kuakui pada usia itu,_sekitar 16-17 tahun, rasa himmahku pada setiap hal berbau arab begitu kuat, seakan apa-apa yang berinisial arab adalah bagus, shaleh dan keren, karena kalau menyangkut aksinya, batinku pun merasa tidak menyetujui, ini terbukti ketika suatu waktu aku mau pulang ke rumah dan sengaja memakai kaus osama itu, ada seorang teman yang memberi saran: "hati-hati kalau pakai baju itu, nanti ditembak tentara amerika". sontak aku kaget dan dengan serentak mengganti baju tersebut tidak jadi memakainya. dalam bebakku berkata: "wah tidak gaya dong kalo harus mati oleh karena ngefans sama sosok yang aku kagumi dari cara pakainnya saja".

setelah saya menginjak bangku kuliah barulah tahu akan seluk beluk lumayan mendetil tentang apa itu teroris, apa itu paham literal dan apa itu idiologi liberal. darisanalah aku mulai melahap aneka pemikiran yang bisa dikategorikan provokatif, kontroversial atau bila disimpulkan ialah "nyeleneh". jadinya idiologiku dalam mengunyah aneka informasi lumayan terasah untuk tidak cepat menyimpulkan, seperti tidak gampang menyimpulkan bahwa seorang yang bersorban itu adalah seorang saleh, hingga tidak kaget bila mendapati orang bersorban tetapi akhlaknya semerawut. seorang yang berentenan gelar itu orang yang pintar, tidak silau dengan mereka toh di negeri tercinta ini pendidikan ibarat pasar loak, dan seorang yang berkata kontroversial itu negatif, karena setiap hal yang dahsyat selalu ditentang paling tidak ketika kali pertama di ucapkan. paling tidak aku senantiasa menancabkan ada ribuan rasiah yang terdapat dalam diri manusia sebagaimana yang dikatakan Imanuel kant bahwa manusia ialah "the Man unknow". hingga sebagaimana pepatah "fisik tidaklah mewakilkan seseorang" begitu jelas adanya. dan tentunya tidak cukup sehari dua hari lebih lagi jika hanya dari kabar angin semata menyimpulkan seperti apa seseorang itu. makanya, akupun merasa rasa Fans pada Osama pun mulai mengendur seiring berjalannya hari dan bertambahnya pengetahuanku, karena yang kutahu terlepas dari simpang siur status osama, aku ambil yang maraknya saja, osama hanyalah pigur jangkung berfaham literal dan berjanggut yang diwaspadai Amerika.
Atas dasar Epistimologi itu, aku selalu waspada menelisik seseorang hanya dari sekilas saja, hingga tak ayal terjadi beberapa hal yang rada ganjil dalam diriku seperti berkeinginan berakal M. Quraish Shihab tetapi ber style Jon bon jovi. sungguh terasa ganjil yah?, di otak kiri sebagaimana kata Roger Sperry bahwa didalamnya mencakup memori semacam matematika disana aku menyimpan sosok smart Pak Quraish dengan tafsirnya, dan di otak kanan yang mencakup seni, disna aku menyimpan Kang Jon dengan stylish dan karyanya. huehehehehehe

pokonya, salam kenal dari azir kita akan saling mengenal, dan terimakasih sudah berkunjung.