Movies

Senin, 16 Mei 2011

Potret Diri

Bila ada pikiran tentang sosok biasa, mudah ditemui dimana-mana, mungkin lelaki dengan panggilan azir ini cocok akan gelar tersebut.

Tiada yang istimewa bila menilik fisik, materi, ekspektasi, idealisme, kultur, dan intelegensi, lebih lagi se balkon prestasi. Yang ada malah stimulus yang tidak terbilang artistik seperti sesekali melihat gadis yang bohay dan bersiul, berucap kata-kata kotor seperti dapur, genteng rumah, dan sering kejadian bangun subuh jam 7 WIB, menyangka malah tengah terang bulan. Namun meski tertatih-tatih setidaknya dalam benak ini ada 'niat' untuk disiplin pada waktu, rajin belajar, continue bangun subuh, dan giat shalat berjamaah di mesjid dengan simpulan menjadi lebih baik dari ke hari ke hari. amien.

sosok yang biasa dan kebanyakan ini hanya ingin bertutur tentang hal remeh yang mudah-mudahan ada yang berkenan membaca potret diri dari seorang manusia yang sejatinya senang menjalin persahabatan, senang mendapat perhatian, senang diselimuti pujian, senang dianggap penting, dan kadang-kadang senang di hujam kritikan. sebagai manusia yang diciptakan beda meski tampak biasa, aku butuh mata untuk melihat posturku, telinga untuk mendengar idiologi atau keluh kesahku, dan hati untuk meraba perasaanku. dan umtuk alasan sederhana itulah aku membuat blog yang dinamai panggilan nama pribadiku di kampung: "cep Mumu".

Bukan atas dasar undervalue aku berstatemen seperti menilai diriku apa adanya dan terkesan over interospeksi, namun aku hidup bukan main-main, juga tidak diciptakan untuk main-main, jadi aku gak rela bila harus mengkamuflase dengan memperkenalkan diri dan menampilkan sesuatu yang tak ada dalam diriku sendiri. maka perkenankan aku mempotret diri ini apa adanya, karena menurutku satu-satunya cara kita menghargai diri kita sendiri ialah dengan menampilkan diri secara apa adanya.

mungkin satu-satunya yang istimewa dariku adalah namaku sendiri: Abdul Wahid Muhajir,
itupun pemberian orang tuaku yang pada mulanya Abdul Wahid Muharam, karena aku dilahirkan bertepatan pada awal tahun Hijriyah tepatnya di bulan Muharam. tapi karena dirasa kurang artistik. ayah ibuku memutuskan untuk menggantinya menjadi Muhajir. terlintas nama tersebut mengingatkan akan nama Kaum Muhajirin di masa Rasulullah saw. betul adanya, tetapi apabila diruntunkan dari pelbagai sisi namaku bisa di artikan pada tiga segi.

- Muhajir yang merupakan Eufemisme dari Muharam, karena kata Muharam terkesan bernada kakofoni.
- Muhajir, merupakan suatu kelompok pengikut Rasulullah
- secara leksikal Muhajir berarti "orang yang berpindah". orang tuaku berharap aku menjadi sosok yang berpindah -ups bukan berarti orang yang nomaden-, tetapi orang yang berpindah dari suatu kebaikan ke kebaikan yang lain.
- bila disambungkan dengan kata sebelumnya: "Abdul Wahid". kata muhajir bermakna: "seorang hamba Muhammad", karena kata Muhajir disana dimaksudkan pada sesosok yang telah berhijrah dari Mekkah ke madinah yang tidak lain adalah Baginda Muhammad Saw.

bagaimana kawan, betapa elegan nama yang mempunyai artikulasi dan multitafsir ini kan.. heu heu heu heu sedikit narsis maaf.

Aku dilahirkan didaerah Ciparay kabupaten Bandung. anak ketujuh dari tujuh bersaudara, tujuh bersaudari tepatnya karena aku punya lima kakak perempuan dan hanya satu laki-laki. aku dibesarkan dalam keluarga yang terbilang religius. rumahku tepat kompleks pondok pesantren, ayahku merupakan keluarga besar sekaligus staf pengajar yang suka disebut ustad. dalam lingkungan seperti itu, otomatis kecenderungan untuk mempelajari dan memperdalam agama menjadi semacam mainstream, hingga orang tuaku sejak dini mendidikku dengan cara yang terbilang Konservatif, maksud saya pendidikan pada anak dengan cara mengarahkan anaknya untuk lebih berkecenderungan pada agama karena kultur pesantren yang sebagaimana kita tahu agak terkesan hieraki, bahkan dinasti.
Di rumah, semenjak MI (madrasah islamiah) sampai Mts, aku sudah disuguhi aneka kitab kuning, yakni buku-buku kelasik karangan cendikia yang mayoritas berasal dari arab, tetapi selama itu pula aku tidak benar-benar fokus mempelajarinya. orang bilang itu dikarenakan aku berada di kandang sehingga wajar bila nakal, dikarenakan setatusku bisa disebut "pangeran" menjadikanku kebal terhadap hukum pesantren, yang tak lain adalah rumahku sendiri.
kepergok, ayahku pun kapok menyimpan anak dirumahnya, maka sesuai dengan nama Muhajir akupun mulai jadi nomaden alias jarang tinggal dirumah sejak itu.
aku dilarikan ke sebuah pesantren di tasikmalaya jawa barat, disanalah baru antusiasku mempelajari ilmu agama mulai mekar, disana pula kali pertama aku mengerti tentang ilmu gramatikal seperti Nahwu, sharap, atau fiqh.
bersama suka citanya, ada yang menarik ketika mesantren disana. di tahun 2002 ketika terjadi serangan teroris yang menghancurkan dua gedung WTC di amerika serikat. aku menontonnya di televisi disebuah warung, diberitkan aksi teror itu direncanakan oleh pemimpin al Qaeda Usamah bin Laden. ketika itu aku tidak tahu seperti apa wajah Osama osama itu, namun yang terbersit dipikiranku ialah, betapa berani orang itu melakukan aksi yang merenggut ribuan nyawa, bahkan ke negara yang sudah terkenal sebagai negara adikuasa.
entahlah, tadinya mungkin ini hanya idiom ku saja, tapi mendadak ketika suasana tragedi itu masih hangat, salah seorang santri mendatangai satu persatu kamar kami sambil menawarkan baju bergambar Osama bin laden. aku merasa terkejut dan kagum melihat seorang tua dengan sorban melilit di kepalanya berjanggut panjang, serentak aku membelinya, dan memakainya dengan penuh bangganya.
sejujurnya, ketika itu aku tidak tahu menahu tentang dampak baik dan buruknya aksi teror yang dilakukan osama, dan bukan atas dasar itu kekagumanku muncul hingga rela mengeluarkan kocek untuk sekedar membeli kaosnya. tetapi yang membuatku terkesan tidaklah lain karena sorban dan janggutnya saja tidak lebih. karena kuakui pada usia itu,_sekitar 16-17 tahun, rasa himmahku pada setiap hal berbau arab begitu kuat, seakan apa-apa yang berinisial arab adalah bagus, shaleh dan keren, karena kalau menyangkut aksinya, batinku pun merasa tidak menyetujui, ini terbukti ketika suatu waktu aku mau pulang ke rumah dan sengaja memakai kaus osama itu, ada seorang teman yang memberi saran: "hati-hati kalau pakai baju itu, nanti ditembak tentara amerika". sontak aku kaget dan dengan serentak mengganti baju tersebut tidak jadi memakainya. dalam bebakku berkata: "wah tidak gaya dong kalo harus mati oleh karena ngefans sama sosok yang aku kagumi dari cara pakainnya saja".

setelah saya menginjak bangku kuliah barulah tahu akan seluk beluk lumayan mendetil tentang apa itu teroris, apa itu paham literal dan apa itu idiologi liberal. darisanalah aku mulai melahap aneka pemikiran yang bisa dikategorikan provokatif, kontroversial atau bila disimpulkan ialah "nyeleneh". jadinya idiologiku dalam mengunyah aneka informasi lumayan terasah untuk tidak cepat menyimpulkan, seperti tidak gampang menyimpulkan bahwa seorang yang bersorban itu adalah seorang saleh, hingga tidak kaget bila mendapati orang bersorban tetapi akhlaknya semerawut. seorang yang berentenan gelar itu orang yang pintar, tidak silau dengan mereka toh di negeri tercinta ini pendidikan ibarat pasar loak, dan seorang yang berkata kontroversial itu negatif, karena setiap hal yang dahsyat selalu ditentang paling tidak ketika kali pertama di ucapkan. paling tidak aku senantiasa menancabkan ada ribuan rasiah yang terdapat dalam diri manusia sebagaimana yang dikatakan Imanuel kant bahwa manusia ialah "the Man unknow". hingga sebagaimana pepatah "fisik tidaklah mewakilkan seseorang" begitu jelas adanya. dan tentunya tidak cukup sehari dua hari lebih lagi jika hanya dari kabar angin semata menyimpulkan seperti apa seseorang itu. makanya, akupun merasa rasa Fans pada Osama pun mulai mengendur seiring berjalannya hari dan bertambahnya pengetahuanku, karena yang kutahu terlepas dari simpang siur status osama, aku ambil yang maraknya saja, osama hanyalah pigur jangkung berfaham literal dan berjanggut yang diwaspadai Amerika.
Atas dasar Epistimologi itu, aku selalu waspada menelisik seseorang hanya dari sekilas saja, hingga tak ayal terjadi beberapa hal yang rada ganjil dalam diriku seperti berkeinginan berakal M. Quraish Shihab tetapi ber style Jon bon jovi. sungguh terasa ganjil yah?, di otak kiri sebagaimana kata Roger Sperry bahwa didalamnya mencakup memori semacam matematika disana aku menyimpan sosok smart Pak Quraish dengan tafsirnya, dan di otak kanan yang mencakup seni, disna aku menyimpan Kang Jon dengan stylish dan karyanya. huehehehehehe

pokonya, salam kenal dari azir kita akan saling mengenal, dan terimakasih sudah berkunjung.

2 komentar: