28 agustus 2011. Sembari ngabuburit aku bersama temanku pergi membeli es buah durian di depan kampus. Didorong temanku untuk sekedar bercanda dan mencairkan suasana aku agak sedikit komplain pada si emang penjual es, dengan lagak santai aku berkata bahwa air es nya sekarang tidak berwarna kuning lagi yah mang?
Dan apa respon yang aku dapat?
Kendati bentuk kalimat yang aku kemukakan bukan dalam redaksi pertanyaan alias bentuk berita atau dalam bahasa arab disebut insyaiyatul lafd, khabariatul makna.
“Yah” jawaban singkat angkuh. Si emang itu jelas tidak senang akan ucapanku, wajahnya sontak berubah masam, aku tanyakan harga (padahal basa basi karena sudah tahu harga es tersebut), dijawab dengan masam tanpa memandangku seakan dia sedang sibuk meladeni pelanggan, padahal hanya akulah satu-satunya pelanggan ketika itu.
Hingga ketika kusodorkan uang 50 ribu an, dia berkata dengan tegas: “gak ada kembaliannya!”.
Hah!, aku terus nanya: “terus gimana mang?, gak ada uang kecil mang” aku memelas karena suasana serasa mulai kikuk.
Dia jawab lagi dengan tegas “gak ada” masih dengan nada ketus tanpa menoleh pula.
Kondisi ini seperti cowok yang sedang ngebujuk ceweknya yang lagi ngambek. Kalau untuk cewek sih aku masih ada toleransi untuk bersikap sabar, Tapi kan dia bukan cewek!!! Haihhhh!!!
Nah, dalam benak karuan saja hati ini uring-uringan mulek berkata: “jutek amat, okeh aku gak jadi beli deh kalo gitu mah masih banyak ko penjual es di sekitar sini” tensi ku naik. Tapi sebelum ide itu terlontar temanku menyarankan “udah zir, simpen aja dulu es nya, kita beli nasi dulu nanti kembali ke sini. Akupun sepakat dengan usulan temanku, mengingat-ngingat bulan puasa.
Di motor, seperjalan menuju warteg, hatiku ngutruk dan disanalah terjadi pertarungan antara emosi dan logika.
Aku mulai mengingat-ngingat buku yang telah ku baca tentang mengubah perspektif. Aku mengingat petuah seniorku bahwa sebetulnya dalam hidup jangan terjebak pada respon dari phenomena, tetapi takar lah dulu setiap phenomena dengan logika.
Dengan begitu aku mulai mengalihkan perasaan ke logika, dan kuubah perspektif nya.
Caranya mudah, aku mulai dari memahami keadaan si emang es karena ini tanggal akhir bulan puasa di mana musimnya mudik ke kampung halaman berkumpul sanak family, analisa Sherlock holmes aku gunakan; melihat dari pakaiannya, logat bicaranya, jelas dia bukan berasal dari bandung, kuat jadi dari dataran jawa tengah atau jawa timur. Di hari sebelumnya biasanya dia di temani mitranya tapi kini dia sendiri, bisa jadi si mitra tersebut sudah mudik duluan. Al hasil kondisi ini sudah jauh dari cukup untuk membuat diriku gak usah marah-marah dan mulai bersyukur.
Dari sana pikiranku mulai beralih akan urgensi masing-masing dan mulai mengaplikasikan pepatah: “dahulukan tanggung jawab daripada hak”. Disinilah letaknya kesalahanku tadi sampai emosi begitu rupa.
Aku menghadap tadi bak seorang raja yang inginnya diladeni, padahal sikap itu kendati merupakan hal yang wajar dalam jual beli karena konsumen adalah raja, tetapi dari segi nilai aku lah yang sedang bernegosiasi dengan diri sendiri akan arti pemberian, dan keikhlasan.
Dan akhirnya, aku dan temanku kembali ke penjual es tersebut, aku tersenyum penuh ketulusan sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan menanyakan kembaliannya demi mempermudah karena ketika itu si emang sedang repot dikerubuni pelanggan: ”mang pulangannya dua ribu mang hehehe” ucapku dengan nyengir sarat makna dan penuh kasih.
Ed dunya Helwah (hidup itu indah). itulah yang terbersit dibenakku bila kita sedang bersyukur, dan memang kebahagiaan itu ada ketika kita bersyukur, dimana kita bisa berdamai dengan diri hingga kita tidak terjebak respon dan menjadikan hidup kita terkendali, penuh kesadaran akan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan yang sebenarnya ada tepat di depan kita bahkan dalam diri kita.
Ingat ungkapan Anonim: Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan rasa syukur kitalah yang membuat kita bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar