Movies

Minggu, 22 Mei 2011

Secret (Jostein Gaarder)

Tak lama setelah terjadi perang, dalam sebah vila bangsawan di Silkeborg, sebuah kota kecil di Denmark, hidup keluarga Kjoergaard yang kaya raya, yang baru saja memperkerjakan seorang gadis pelayan di rumah mereka. Nama gadis itu Lotte. Hanya itulah namanya, Karena dia yatim piatu. Usianya tak lebih dari enam belas atau tujuh belas tahun. Konon gadis itu sangat cantik, tak mengherankan jika anak lelaki satu-satunya dari keluarga Kjoergaard tak mampu melepaskan pandangan matanya saat Lotte sedang berkerja keras bagi keluarganya yang memeras tenaganya. Anak lelaki itu selalu mengikutinya ke segala sudut rumah dan, kendati usianya masih sangat muda, dia berhasil memikatnya ketika suatu hari gadis itu ada di ruang binatu utnuk merebus baju. Meski hanya dialkukan sekali, Lotte akhirnya hamil.


Selama tahun-tahun setelah kejadian itu, berbagai penjelasan muncul mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang binatu pada sore bencana itu. desas-desus mengatakan bahwa anak laki-laki itu_Morten, begitu namanya_memeperkosa gadis itu saat dia berdiri memuul-mukul pakaian, tetapi keluarga Kjoergaard dengan tegas mengatakan bahwa lotte lah yang berlaku tidak sennoh, bahwa dialah yang memikat Morten.

Keluarga itu kini membuat kesepakatan rahasia bagi si pelayan untuk memulai tugas baru di sebuah keluarga yang di tinggal di sebuah tempat terpencil di negeri itu. namun, beberapa bulan kemudian, ketika Lotte melahirkan seorang anak laki-laki, keluarga itu bersikeras mengambil si bayi karena di dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan. Kendati memiliki banyak harta, keluarga besar Kjoergaard tidak memiliki banyak keturunan, tk setetes darah pun dari keluarga terhormat itu boleh disia-siakan. Lotte melancarkan perlawanan sejadi-jadinya. Dia menangis pilu ketika anaknya di renggut dari sisinya hanya beberapa minggu setelah kelahirannya. Secara materiil maupun moral, dia dianggap tidak layak untuk membesarkan anaknya. Walau bagaimanapun, bayinya itu tidak berayah.

Tentu saja Morten tidak memedulikan bayinya. Usianya masih terlalu muda untuk menjalankan tugas sebagai ayah, sementara orangtuanya terlalu tua untuk mengangkat si bayi sebagai anak mereka sendiri. Namun, Morten punya seorang paman yang tidak punya keturunan meski telah lama menikah. Dia dan istrinya akhirnya yang mengambil tanggung jawab atas si bayi laki-laki itu, yang dibaptis dengan nama Carsten.

Semakin lama, saat tumbuh semakin besar, Carsten sering memikirkan usia ayah dan ibunya saat dia dilahirkan. Ibunya pasti mendekati umur lima puluh tahunan, tetapi tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa Stine dan Jakob, begitu mereka dipanggil, bukanlah orangtua kandungnya. Pada hari ulang tahunnya, dia selalu mendapatkan sehelai kartu dari “Sepupu Morten”. Dan hingga saat menerima sakramen penguatan, dia mendapatkan hadiah Natal yang dikirimkan lewat pos. tentu saja tak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa sepupunya yang lebih tua delapan belas tahun itu sesungguhnya adalah ayah kandungnya. Rahasia itu tersimpan rapat, terutama bagi dirinya.

Jakob adalah kapten sebuah kapal dagang raksasa, dan ketika Carsten masih kecil, dia terkadang diizinkan menemani ayahnya berkelana ke dunia luar. Sebagai anak tunggal, hubungannya dengan kedua orangtuanya sangat erat. Di atas segala-galanya, kedua orangtuanya itu sangat mengasihinya. Namun, pada tahun terakhir sekolahnya, baik Stine maupun Jakob meninggal berturutan, hanya dalam hitungan bulan. Tiba-tiba Carsten sendirian di dunia, tanpa keluarga, karena semua kakek-neneknya juga telah meninggal. Namun, saat terbaring menunggu kematiannya, Jakob menceritakan kepada Carsten tentang kisah pelayan wanita di ruang binatu dan Sepupu Morten, yang sesungguhnya adalah ayah kandungnya.

Pada saat itu, Carsten sedikit sekali menjalin kontak dengan sepupunya; keduanya tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Ketika kemudian Carsten mulai belajar untuk mendapatkan gela M.A. di Universitas Arhus, suatu kali dia benar-benar mengalami kesulitan uang. Dalam keputusasaan, dia menghubungi Morten yang tentu sja tahu bahwa Carsten adalah anak kandungnya dan beranggapan hanya dirinya yang tahu tentang hal itu, setelah Stine dan Jakob meninggal.

Morten telah menjadi seorang konsultan kedokteran di Rumah Sakit Arhus. Dia menikah dengan Malene yang cantik, putrid seorang hakim Pengadilan Tinggi di Copernhagen, dan telah memiliki dua anak gadis yang menjadi anggota paduan suara gereja. Karena itulah, Morten tidak berminat melibatkan sepupunya itu dalam kehidupannya sebagai bangsawan tak bercela, karena menyadari benar latar belakang yang tak jelas dari anak laki-laki itu.

Tanpa membeberkan apa yang dia ketahui Carsten mengajukan pinjaman uang kepada sepepunya, atau lebih baik jika berupa semacam tunjangan sebesar lima atau sepuluh ribu kroner. Dia tahu benar sepupunya itu orang berada. Namun, tanpa basa-basi, morten menolak permintaannya, tanpa menghiraukan permohonan bantuan ala kadarnya dari mahasiswa bersahaja yang tengah menghadapi kesulitan itu dia menuangkan segelas malt whisky, melontarkan lelucon tentang masa lalu, kemudian mengulurkan uang lima ratus kroner dalam tangannya sebelum menyuruhnya pergi, sambil berbasa-basi mengatakan bahwa pemberian itu merupakan hadiah untuk kuliahnya. Celakanya, Carsten _ yang telah lama memendam kebencian terhadap ayah kandungnya karena telah menipunya selama bertahun-tahun_kini menyerang sepupunya dengan menatap lurus kematanya lalu berkata, “Tidakkah hina menolak permintaan anak kandungmu sendiri yang ingin meminjam barang beberapa ribu kroner? Barangkali lain kali akan bicara kepada Malene…….” Morten terkejut, tetapi Carsten telah membalikkan punggunya sambil berkata, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.


Setelah beberapa tahun kuliah yang terputus-putus, Carsten bertemu Kristine yang sejak itu menjadi satu-satunya perhatian dalam hidupnya. Selama beberapat tahun, hanya dua kali dia menghubungi Morten dan Malene, dan Morten lah yang selalu menjawab teleponnya. Tentu saja Carsten tidak lagi meminta uang kepada sepupunya itu. walau demikian sekali dua kali dia menerima cek dari Morten, dan ketika dia dan Kristine menikah, mereka mendapatkan selembar cek sebesar lima ribbu kroner dari sepupu Morten dan Malene, serta Maren dan Mathilde. Namun, hal ini tidak mampu meredakan kebencian Carsten terhadap ayah kandungnya sendiri, dan ketika mereka menikah, dia memutuskan menggunakan nama keluarga Kristine, yang tentu sja menerimanya dengan hati terbuka.


Carsten mencintai Kristine, dan sejak pertemuannya, dia tidak pernah berpaling darinya. Namun jika takdir bicara, kehati-hatian manusia tak lagi berdaya. Carsten memiliki tanda lahir yang mengerikan di lehernya, dan ketika secara mendadak tanda lahir itu mengeluarkan darah, Kristine mendesak agar dia pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Dokter setempat mengangkat tanda lahir itu dan secara rutin mengirimkannya untuk dianalisis ke Rumah Sakit Arhus. Saying sekali hasil biopsy jaringannya tidak pernah dikambalikan ke dokter pribadi Carsten. Minggu dan bulan berlalu tanpa pemberitahuan baik dari sang dokter maupun rumah sakit, membuat Carsten dan kristine tidak lagi memikirkan tanda lahir itu. namun, musim semi berikutnya. Carsten jatuh sakit, dia didiagnosis mengidap kanker yang telah menyebar, dan hal ini seketika dikaitkan pada biopsy jaringan yang telah dikirmkan ke rumah sakit beberapa bulan sebelumnya.


Lama sesudahnya, rumah sakit mengakui bahwa sampel dari Carsten telah diterima dan dianalisis, dan juga telah didiagnosis sebagai melanoma ganas, tetapi misteri tentang mengapa dokter Carsten tidak diberi tahu hasilnya masih menjadi tanda Tanya. Secara resmi, yang bertanggung jawab adlah konsultan, Morten Kjoergaard. Namun, sepertinya dia tidak pernah punya kaitan apa pun dengan analisis itu sendiri. Oleh karenanya, diperkirakan bahwa kasus ini diakibatkan oleh kecerobohan salah seorang teknisi laboratorium patalogi. Surat kabar setempat menulis sebuah artikel pendek mengenai “konsultan yang tidak diberi tahu” dan karenanya, “dirampas kesempatannya untuk menyelamatkan sepupunya sendiri”. Namun, masalah tersebut dengan cept terlupakan.

Carsten hanya hidup beberapa minggu setelah jatuh sakit. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan dirawat dengan sabaik-baiknya oleh Kristine dan orangtuanya, baik secara isik maupun spiritual. Bukan itu saja. Seorang perawat_yang segera kemudian dating setiap hari ke rumah mereka_memberian bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan. Namanya Lotte. Ketika tahu di mana dulunya tanda lahir Carsten itu terletka, Lotte memeriksa ulang tanggal kelahiran Carsten. Ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dia meninggal, tetapi sejak saat itu, sang perawat terus-menerus menjaga di samping tempat tidurnya dan dengan penuh kasih menggenggam tangannya hingga saat-saat berakhir. Kata terakhir Carsten saat membuka matanya dan melihat Lotte serta Kristine untuk terakhir kalinya adalah, “Kita tidak akan bicarakan hal itu lagi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar