Aku hanya seperti apa yang kau lihat dan kan kuberitahukan apa yang belum kau lihat
biar tidak terlalu menghentak bila nyatanya aku tidaklah tangguh tetapi rapuh, bila nyatanya aku tidaklah tegar dan pundakku tidaklah begitu lebar.
maka, gampar saja wajahku ini bila krikil saja membuatku tersandung jatuh lalu runtuh!
Dalam hidup, terkadang aku sampai pada satu titik dimana hati sulit bergerak, takut tersesat, enggan beranjak.
dan aku harap ada sosok yang hadir disana bersama ribuan kadang itu.
aku butuh telapak tangan biar keras menampar tetapi ku tersadar itu hanya krikil kecil bukan batu besar
lalu aku butuh telinga untuk menyimak setiap huruf yang kukatakan
butuh mata untuk menatap setiap gerak yang kukerjakan
dan butuh perasaan untuk meraba setiap apa yang kurasakan
maafkan aku bila terlalu menuntut sementara tidak kuberani janjikan suatu hal pun selain sepenggal ungkapan tak tuntas "aku mencintaimu", yang hanya dengan dua kata itu ku sergap kepercayaan penuh darimu.
dear...
tak masalah kita mulai dari sisi mana, dan dari sudut apa. karena yang penting pada akhirnya kita bersatu padu pada satu hal yang sama.
bukankah tidak mesti bahwa angka sepuluh ialah hasil dari angka lima tambah lima, tetapi angka sepuluh ialah dari perkalian, pertambahan, pengurangan, dan pembagian angka mana ke mana?.
langit tidak selamanya cerah, angin tidak selamanya ramah, dan percayalah akupun tidak selamanya utuh.
dan aku, hanya seperti apa yang kau lihat.
Cep Mumu
kenikmatan jasmani adalah cekikan dari madu (socrates)
Movies
Sabtu, 31 Desember 2011
Sabtu, 27 Agustus 2011
Jangan terjebak Respon!
28 agustus 2011. Sembari ngabuburit aku bersama temanku pergi membeli es buah durian di depan kampus. Didorong temanku untuk sekedar bercanda dan mencairkan suasana aku agak sedikit komplain pada si emang penjual es, dengan lagak santai aku berkata bahwa air es nya sekarang tidak berwarna kuning lagi yah mang?
Dan apa respon yang aku dapat?
Kendati bentuk kalimat yang aku kemukakan bukan dalam redaksi pertanyaan alias bentuk berita atau dalam bahasa arab disebut insyaiyatul lafd, khabariatul makna.
“Yah” jawaban singkat angkuh. Si emang itu jelas tidak senang akan ucapanku, wajahnya sontak berubah masam, aku tanyakan harga (padahal basa basi karena sudah tahu harga es tersebut), dijawab dengan masam tanpa memandangku seakan dia sedang sibuk meladeni pelanggan, padahal hanya akulah satu-satunya pelanggan ketika itu.
Hingga ketika kusodorkan uang 50 ribu an, dia berkata dengan tegas: “gak ada kembaliannya!”.
Hah!, aku terus nanya: “terus gimana mang?, gak ada uang kecil mang” aku memelas karena suasana serasa mulai kikuk.
Dia jawab lagi dengan tegas “gak ada” masih dengan nada ketus tanpa menoleh pula.
Kondisi ini seperti cowok yang sedang ngebujuk ceweknya yang lagi ngambek. Kalau untuk cewek sih aku masih ada toleransi untuk bersikap sabar, Tapi kan dia bukan cewek!!! Haihhhh!!!
Nah, dalam benak karuan saja hati ini uring-uringan mulek berkata: “jutek amat, okeh aku gak jadi beli deh kalo gitu mah masih banyak ko penjual es di sekitar sini” tensi ku naik. Tapi sebelum ide itu terlontar temanku menyarankan “udah zir, simpen aja dulu es nya, kita beli nasi dulu nanti kembali ke sini. Akupun sepakat dengan usulan temanku, mengingat-ngingat bulan puasa.
Di motor, seperjalan menuju warteg, hatiku ngutruk dan disanalah terjadi pertarungan antara emosi dan logika.
Aku mulai mengingat-ngingat buku yang telah ku baca tentang mengubah perspektif. Aku mengingat petuah seniorku bahwa sebetulnya dalam hidup jangan terjebak pada respon dari phenomena, tetapi takar lah dulu setiap phenomena dengan logika.
Dengan begitu aku mulai mengalihkan perasaan ke logika, dan kuubah perspektif nya.
Caranya mudah, aku mulai dari memahami keadaan si emang es karena ini tanggal akhir bulan puasa di mana musimnya mudik ke kampung halaman berkumpul sanak family, analisa Sherlock holmes aku gunakan; melihat dari pakaiannya, logat bicaranya, jelas dia bukan berasal dari bandung, kuat jadi dari dataran jawa tengah atau jawa timur. Di hari sebelumnya biasanya dia di temani mitranya tapi kini dia sendiri, bisa jadi si mitra tersebut sudah mudik duluan. Al hasil kondisi ini sudah jauh dari cukup untuk membuat diriku gak usah marah-marah dan mulai bersyukur.
Dari sana pikiranku mulai beralih akan urgensi masing-masing dan mulai mengaplikasikan pepatah: “dahulukan tanggung jawab daripada hak”. Disinilah letaknya kesalahanku tadi sampai emosi begitu rupa.
Aku menghadap tadi bak seorang raja yang inginnya diladeni, padahal sikap itu kendati merupakan hal yang wajar dalam jual beli karena konsumen adalah raja, tetapi dari segi nilai aku lah yang sedang bernegosiasi dengan diri sendiri akan arti pemberian, dan keikhlasan.
Dan akhirnya, aku dan temanku kembali ke penjual es tersebut, aku tersenyum penuh ketulusan sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan menanyakan kembaliannya demi mempermudah karena ketika itu si emang sedang repot dikerubuni pelanggan: ”mang pulangannya dua ribu mang hehehe” ucapku dengan nyengir sarat makna dan penuh kasih.
Ed dunya Helwah (hidup itu indah). itulah yang terbersit dibenakku bila kita sedang bersyukur, dan memang kebahagiaan itu ada ketika kita bersyukur, dimana kita bisa berdamai dengan diri hingga kita tidak terjebak respon dan menjadikan hidup kita terkendali, penuh kesadaran akan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan yang sebenarnya ada tepat di depan kita bahkan dalam diri kita.
Ingat ungkapan Anonim: Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan rasa syukur kitalah yang membuat kita bahagia.
Dan apa respon yang aku dapat?
Kendati bentuk kalimat yang aku kemukakan bukan dalam redaksi pertanyaan alias bentuk berita atau dalam bahasa arab disebut insyaiyatul lafd, khabariatul makna.
“Yah” jawaban singkat angkuh. Si emang itu jelas tidak senang akan ucapanku, wajahnya sontak berubah masam, aku tanyakan harga (padahal basa basi karena sudah tahu harga es tersebut), dijawab dengan masam tanpa memandangku seakan dia sedang sibuk meladeni pelanggan, padahal hanya akulah satu-satunya pelanggan ketika itu.
Hingga ketika kusodorkan uang 50 ribu an, dia berkata dengan tegas: “gak ada kembaliannya!”.
Hah!, aku terus nanya: “terus gimana mang?, gak ada uang kecil mang” aku memelas karena suasana serasa mulai kikuk.
Dia jawab lagi dengan tegas “gak ada” masih dengan nada ketus tanpa menoleh pula.
Kondisi ini seperti cowok yang sedang ngebujuk ceweknya yang lagi ngambek. Kalau untuk cewek sih aku masih ada toleransi untuk bersikap sabar, Tapi kan dia bukan cewek!!! Haihhhh!!!
Nah, dalam benak karuan saja hati ini uring-uringan mulek berkata: “jutek amat, okeh aku gak jadi beli deh kalo gitu mah masih banyak ko penjual es di sekitar sini” tensi ku naik. Tapi sebelum ide itu terlontar temanku menyarankan “udah zir, simpen aja dulu es nya, kita beli nasi dulu nanti kembali ke sini. Akupun sepakat dengan usulan temanku, mengingat-ngingat bulan puasa.
Di motor, seperjalan menuju warteg, hatiku ngutruk dan disanalah terjadi pertarungan antara emosi dan logika.
Aku mulai mengingat-ngingat buku yang telah ku baca tentang mengubah perspektif. Aku mengingat petuah seniorku bahwa sebetulnya dalam hidup jangan terjebak pada respon dari phenomena, tetapi takar lah dulu setiap phenomena dengan logika.
Dengan begitu aku mulai mengalihkan perasaan ke logika, dan kuubah perspektif nya.
Caranya mudah, aku mulai dari memahami keadaan si emang es karena ini tanggal akhir bulan puasa di mana musimnya mudik ke kampung halaman berkumpul sanak family, analisa Sherlock holmes aku gunakan; melihat dari pakaiannya, logat bicaranya, jelas dia bukan berasal dari bandung, kuat jadi dari dataran jawa tengah atau jawa timur. Di hari sebelumnya biasanya dia di temani mitranya tapi kini dia sendiri, bisa jadi si mitra tersebut sudah mudik duluan. Al hasil kondisi ini sudah jauh dari cukup untuk membuat diriku gak usah marah-marah dan mulai bersyukur.
Dari sana pikiranku mulai beralih akan urgensi masing-masing dan mulai mengaplikasikan pepatah: “dahulukan tanggung jawab daripada hak”. Disinilah letaknya kesalahanku tadi sampai emosi begitu rupa.
Aku menghadap tadi bak seorang raja yang inginnya diladeni, padahal sikap itu kendati merupakan hal yang wajar dalam jual beli karena konsumen adalah raja, tetapi dari segi nilai aku lah yang sedang bernegosiasi dengan diri sendiri akan arti pemberian, dan keikhlasan.
Dan akhirnya, aku dan temanku kembali ke penjual es tersebut, aku tersenyum penuh ketulusan sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan menanyakan kembaliannya demi mempermudah karena ketika itu si emang sedang repot dikerubuni pelanggan: ”mang pulangannya dua ribu mang hehehe” ucapku dengan nyengir sarat makna dan penuh kasih.
Ed dunya Helwah (hidup itu indah). itulah yang terbersit dibenakku bila kita sedang bersyukur, dan memang kebahagiaan itu ada ketika kita bersyukur, dimana kita bisa berdamai dengan diri hingga kita tidak terjebak respon dan menjadikan hidup kita terkendali, penuh kesadaran akan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan yang sebenarnya ada tepat di depan kita bahkan dalam diri kita.
Ingat ungkapan Anonim: Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, melainkan rasa syukur kitalah yang membuat kita bahagia.
Histori, Biodata, dan Sajak Iblis.
Konon, iblis yang ingin bertaubat bertanya kepada nabi Nuh as.
'Apa yang harus kulakukan agar taubatku diterima Allah?
Nabi Nuh lalu bertanya kepada Allah swt, dan mendapat jawaban:
''perintahkan ia(iblis) sujud ke kubur Adam as. !''
Setelah nabi Nuh menyampaikan jawaban tersebut, iblis mengerenyitkan kening lalu menggeleng sambil berkata:
Enggak deh, sewaktu Adam masih hidup saja, aku enggan bersujud kepadanya, apalagi setelah kematiannya''
Nampaknya, keangkuhan menjadikannya seperti itu.
Setelah itu, iblis menuliskan biodatanya dalam secarik kertas untuk disebarkan ke seluruh umat jin dan manusia, ke setiap penjuru semesta.
Nama: Iblis.
Gelar: Setan.
Tgl. Lahir: 1-1- tahun perintah sujud kepada Adam.
Alamat: Hati orang-orang yang lengah.
Warga negara:Dunia.
Agama: kekufuran.
Pekerjaan: pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Tuhan.
Pangkat dan golongan: Pembangkang utama.
Jabatan: Pemimpin tertinggi kekufuran dan syirik.
Masa kerja: Sejak kelahiran Adam sampai kiamat.
Modal kerja: penipuan.
Cara kerja: Bertahap.
Sarana: Seks, harta dan semua hiasan dunia.
Sumber rezeki:semua yang haram.
Tempat favorit: Night club, pasar dan tempat-tempat kotor.
Hobi: Menyesatkan dan menjerumuskan.
Cita-cita: Semua manusia masuk neraka.
Isteri: semua yang terbuka auratnya.
Anak sah: lima orang.(Tsabar, al a'war, Miswath, Daasim, Zalanbuur).
Anak angkat: banyak, dari manusia dan jin.
Cucu-cucu: yang durhaka pada orang tuanya.
Yang ditakuti: zikir dan ayat al Qur'an.
Musuh: Tuhan dan orang beriman.
Teman: semua yang rakus, boros dan ingin kekal.
Kekuasaan: Nihil.
Kemampuan: lemah.
Wewenang: merayu.
Alat komunikasi: waswas dan mengumpat.
Yang paling disenangi: pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia.
Keperibadian: angkuh.
Adapun foto frofilnya, boleh anda ilustrasikan, karena seandainya diadakan lomba melukis setan, lukisan yang paling buruk dan menakutkanlah yang menjadi juaranya.
Namun tipu muslihat iblis jauh lebih canggih dari yang anda pikirkan.
Berikut kisah menarik yang dialami oleh Sa'dy Asy-Syairazy , seorang sufi pengagum syekh Abdul Kadir Jaelani, yang bermimpi bertemu Iblis. Katanya, aku melihat Iblis dalam mimpi, tinggi ramping seperti dahan pohon dengan dua mata bagaikan mata bidadari, penampilannya bagai disirami oleh cahaya kenikmatan(syurgawi). Sa'di sangat heran, bagaimana mungkin yang terkutuk dan dibenci itu, berpenampilan indah dan simpatik?
Maka sa'di bertanya untuk menjawab keheranannya itu, Iblis menjawab penuh angkuh:
"Jangan percaya yang dinampakkan kepadamu adalah aku. Aku ditulis oleh satu kuas yang dipegang seorang musuh yang iri hati atas keindahanku karena aku telah menyingkirkan nenek moyangnya dari surga".
Betapapun, tidak bisa dipungkir bahwa yang jauh lebih membahayakan adalah sesuatu yang tampak menarik namun membinasakan dari pada yang buruk rupa, karena kejelekan biasanya kurang mengundang perhatian.
Sepintar dan secerdas itulah adanya iblis, dia tidak takut memperlihatkan tipu muslihatnya karena toh kebodohan manusia selalu saja mau mengikutinya.
Didalam Q.S, Ibrahim 14: 22. terabadikan pidato Iblis, disuatu pemandangan di tengah neraka. Disana Iblis berdiri berpidato yang didengar seluruh penghuni neraka.
Kini, tiba sudah saatnya terpenuhi janji-janji Allah, yang hak dan yang disampaikan oleh para nabi. Janji itu antara lain adalah, bahwa kiamat pasti datang, dan bahwa surga dihuni oleh hamba-hamba-Nya yang taat, sedangkan neraka, dihuni oleh yang durhaka. Saya pun pernah menjanjikan kalian bermacam-macam janji, tapi saya mengaku, bahwa saya tidak memenuhinya. Tuhan juga telah menyampaikan pada kalian bahwa janji dan harapan-harapan yang saya sampaikan itu adalah bohong. Ketika itu, saya tidak dapat memaksa kalian, karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu, dan saya tidak mempunyai bukti atas apa yang saya janjikan: 'saya hanya mengajak kalian' dan kalian memenuhi ajakan saya, karena itu jangan salahkan saya, tapi salahkan diri kalian sendiri. Saya tidak dapat menolong atau memberi manfaat kepada kalian, kalian pun demikian terhadap saya. Saya tidak dapat menolong kalian menghadapi ancaman dan siksa Allah.
Sewaktu didunia iblis juga pernah melantunkan syair bersayap pada para pengikutnya:
Tanpa engkau, menjadi jelas keburukan dunia
Tetapi denganmu ia nampak penuh pesona.
Ambillah dunia, dan jadikan kediamanmu, dan kini, hindarilah pintu-pintu neraka!
Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita dari tipu muslihat iblis dengan aneka jejaringnya. Amien.
Sumber:
yang ringan yang jenaka, yang tersembunyi. M.Qurais Shihab. Bustan. Sa'di.
'Apa yang harus kulakukan agar taubatku diterima Allah?
Nabi Nuh lalu bertanya kepada Allah swt, dan mendapat jawaban:
''perintahkan ia(iblis) sujud ke kubur Adam as. !''
Setelah nabi Nuh menyampaikan jawaban tersebut, iblis mengerenyitkan kening lalu menggeleng sambil berkata:
Enggak deh, sewaktu Adam masih hidup saja, aku enggan bersujud kepadanya, apalagi setelah kematiannya''
Nampaknya, keangkuhan menjadikannya seperti itu.
Setelah itu, iblis menuliskan biodatanya dalam secarik kertas untuk disebarkan ke seluruh umat jin dan manusia, ke setiap penjuru semesta.
Nama: Iblis.
Gelar: Setan.
Tgl. Lahir: 1-1- tahun perintah sujud kepada Adam.
Alamat: Hati orang-orang yang lengah.
Warga negara:Dunia.
Agama: kekufuran.
Pekerjaan: pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Tuhan.
Pangkat dan golongan: Pembangkang utama.
Jabatan: Pemimpin tertinggi kekufuran dan syirik.
Masa kerja: Sejak kelahiran Adam sampai kiamat.
Modal kerja: penipuan.
Cara kerja: Bertahap.
Sarana: Seks, harta dan semua hiasan dunia.
Sumber rezeki:semua yang haram.
Tempat favorit: Night club, pasar dan tempat-tempat kotor.
Hobi: Menyesatkan dan menjerumuskan.
Cita-cita: Semua manusia masuk neraka.
Isteri: semua yang terbuka auratnya.
Anak sah: lima orang.(Tsabar, al a'war, Miswath, Daasim, Zalanbuur).
Anak angkat: banyak, dari manusia dan jin.
Cucu-cucu: yang durhaka pada orang tuanya.
Yang ditakuti: zikir dan ayat al Qur'an.
Musuh: Tuhan dan orang beriman.
Teman: semua yang rakus, boros dan ingin kekal.
Kekuasaan: Nihil.
Kemampuan: lemah.
Wewenang: merayu.
Alat komunikasi: waswas dan mengumpat.
Yang paling disenangi: pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia.
Keperibadian: angkuh.
Adapun foto frofilnya, boleh anda ilustrasikan, karena seandainya diadakan lomba melukis setan, lukisan yang paling buruk dan menakutkanlah yang menjadi juaranya.
Namun tipu muslihat iblis jauh lebih canggih dari yang anda pikirkan.
Berikut kisah menarik yang dialami oleh Sa'dy Asy-Syairazy , seorang sufi pengagum syekh Abdul Kadir Jaelani, yang bermimpi bertemu Iblis. Katanya, aku melihat Iblis dalam mimpi, tinggi ramping seperti dahan pohon dengan dua mata bagaikan mata bidadari, penampilannya bagai disirami oleh cahaya kenikmatan(syurgawi). Sa'di sangat heran, bagaimana mungkin yang terkutuk dan dibenci itu, berpenampilan indah dan simpatik?
Maka sa'di bertanya untuk menjawab keheranannya itu, Iblis menjawab penuh angkuh:
"Jangan percaya yang dinampakkan kepadamu adalah aku. Aku ditulis oleh satu kuas yang dipegang seorang musuh yang iri hati atas keindahanku karena aku telah menyingkirkan nenek moyangnya dari surga".
Betapapun, tidak bisa dipungkir bahwa yang jauh lebih membahayakan adalah sesuatu yang tampak menarik namun membinasakan dari pada yang buruk rupa, karena kejelekan biasanya kurang mengundang perhatian.
Sepintar dan secerdas itulah adanya iblis, dia tidak takut memperlihatkan tipu muslihatnya karena toh kebodohan manusia selalu saja mau mengikutinya.
Didalam Q.S, Ibrahim 14: 22. terabadikan pidato Iblis, disuatu pemandangan di tengah neraka. Disana Iblis berdiri berpidato yang didengar seluruh penghuni neraka.
Kini, tiba sudah saatnya terpenuhi janji-janji Allah, yang hak dan yang disampaikan oleh para nabi. Janji itu antara lain adalah, bahwa kiamat pasti datang, dan bahwa surga dihuni oleh hamba-hamba-Nya yang taat, sedangkan neraka, dihuni oleh yang durhaka. Saya pun pernah menjanjikan kalian bermacam-macam janji, tapi saya mengaku, bahwa saya tidak memenuhinya. Tuhan juga telah menyampaikan pada kalian bahwa janji dan harapan-harapan yang saya sampaikan itu adalah bohong. Ketika itu, saya tidak dapat memaksa kalian, karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu, dan saya tidak mempunyai bukti atas apa yang saya janjikan: 'saya hanya mengajak kalian' dan kalian memenuhi ajakan saya, karena itu jangan salahkan saya, tapi salahkan diri kalian sendiri. Saya tidak dapat menolong atau memberi manfaat kepada kalian, kalian pun demikian terhadap saya. Saya tidak dapat menolong kalian menghadapi ancaman dan siksa Allah.
Sewaktu didunia iblis juga pernah melantunkan syair bersayap pada para pengikutnya:
Tanpa engkau, menjadi jelas keburukan dunia
Tetapi denganmu ia nampak penuh pesona.
Ambillah dunia, dan jadikan kediamanmu, dan kini, hindarilah pintu-pintu neraka!
Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita dari tipu muslihat iblis dengan aneka jejaringnya. Amien.
Sumber:
yang ringan yang jenaka, yang tersembunyi. M.Qurais Shihab. Bustan. Sa'di.
Kelebihan Jomlo
Banyak orang berkilah, berapologi bahwa jomlo berbeda dengan single, statement ini berat kemungkinan didasarlan atas kurang tabahnya yang bersangkutan akan cemoohan atau gunjingan public, ditengah mainstream budaya pacaran masa kini.
Sedikitnya ada dua jawaban cukup memuaskan untuk pandangan minor tersebut:
Pertama: dalam KBBI (kamus “badag” bahasa Indonesia) jomlo berarti perawan tua. Sementara single berarti sendiri, dengan kesimpulan single adalah prinsip, jomlo adalah nasib.
Kedua: jangan jawab, dan jangan tersinggung, kan prinsip. Mau disebut jomlo kek, mau disebut single kek, mau disebut mufrad kek, atau mau disebut batangan sekalipun, masa bodo!
Didunia politik, apabila anda ingin mengetahui dengan validalitas tidak diragukan, bertanyalah pada sosok yang tidak berkecimpung dalam dunia politik yang disebut pengamat politik, begitupun dalam dunia sains, sastra, ekonomi, dlsb, selalulah bertanya pada sosok yang tidak ada sangkut pautnya dengan object matter sasaran anda, karena dengan demikian anda akan mendapat jawaban paling objektif, maka dari itu tidak salah bila strata paling tinggi dalam khazanah pemikiran adalah seorang filsuf.
Nah, sebab kausal diatas juga tidak lepas dari dunia percintaan. Apabila anda ingin tahu kualitas, kuantitas hubungan cinta, bertanyalah pada sosok yang tidak berada dalam dunia cinta, alias sosok jomlo (atau apapun istilah anda), karena dengan demikian anda akan mendapatkan asumsi analitis yang pasti objektif jauh dari unsur politis (kepentingan) dan subjektifitas, karena sosok jomlo terlepas dari cekikan romantisme, sehingga kondisi tersebut membawanya untuk dapat melihat suatu phenomena percintaan secara objektif dan mendalam.
Dalam dunia kedokteran bukan rahasia bila suatu kelemahan anggota badan seringkali terkompensasi dengan kekuatan ekstra badannya lainnya. Seperti orang buta biasanya mempunyai kemampuan indra mendengar dan meraba lebih kuat.
Begitupun dengan orang jomlo, ke-jomlo-annya akan memicu reaksi serabut neutron di otak tatkala menyimak prihal cinta, kualitas analisanya akan semakin meningkat tergantung seberapa lama dia men-jomlo, yang menjadikan saraf kognitif otaknya akan semakin terlatih pada sesuatu yang berhubungan dengan cinta.
Sedikitnya ada dua jawaban cukup memuaskan untuk pandangan minor tersebut:
Pertama: dalam KBBI (kamus “badag” bahasa Indonesia) jomlo berarti perawan tua. Sementara single berarti sendiri, dengan kesimpulan single adalah prinsip, jomlo adalah nasib.
Kedua: jangan jawab, dan jangan tersinggung, kan prinsip. Mau disebut jomlo kek, mau disebut single kek, mau disebut mufrad kek, atau mau disebut batangan sekalipun, masa bodo!
Didunia politik, apabila anda ingin mengetahui dengan validalitas tidak diragukan, bertanyalah pada sosok yang tidak berkecimpung dalam dunia politik yang disebut pengamat politik, begitupun dalam dunia sains, sastra, ekonomi, dlsb, selalulah bertanya pada sosok yang tidak ada sangkut pautnya dengan object matter sasaran anda, karena dengan demikian anda akan mendapat jawaban paling objektif, maka dari itu tidak salah bila strata paling tinggi dalam khazanah pemikiran adalah seorang filsuf.
Nah, sebab kausal diatas juga tidak lepas dari dunia percintaan. Apabila anda ingin tahu kualitas, kuantitas hubungan cinta, bertanyalah pada sosok yang tidak berada dalam dunia cinta, alias sosok jomlo (atau apapun istilah anda), karena dengan demikian anda akan mendapatkan asumsi analitis yang pasti objektif jauh dari unsur politis (kepentingan) dan subjektifitas, karena sosok jomlo terlepas dari cekikan romantisme, sehingga kondisi tersebut membawanya untuk dapat melihat suatu phenomena percintaan secara objektif dan mendalam.
Dalam dunia kedokteran bukan rahasia bila suatu kelemahan anggota badan seringkali terkompensasi dengan kekuatan ekstra badannya lainnya. Seperti orang buta biasanya mempunyai kemampuan indra mendengar dan meraba lebih kuat.
Begitupun dengan orang jomlo, ke-jomlo-annya akan memicu reaksi serabut neutron di otak tatkala menyimak prihal cinta, kualitas analisanya akan semakin meningkat tergantung seberapa lama dia men-jomlo, yang menjadikan saraf kognitif otaknya akan semakin terlatih pada sesuatu yang berhubungan dengan cinta.
Singel itu Sabar
Ditengah budaya mainstream pacaran sekarang ini, telinga ini bak sudah kebakaran dicemooh gara-gara status singel. Merepotkan memang, disinilah saya melihat bentuk dua kesabaran sekaligus. Yang pertama sabar terhadap kepedihan yakni gak punya pacar (karena toh manusia normal dan bersosialisasi dengan khalayak), dan yang kedua sabar yang justru lebih besar kadarnya yakni sabar dari kenikmatan.
Yang perlu diketahui bahwa sabar ialah kemampuan menahan atau menunda respon yang mampu dilakukan. Sebagai contoh: Seseorang bila diinjak kakinya oleh anak kecil dan dia mampu menahan emosinya dinamakan sabar, lain bila yang menginjaknya adalah pria bertubuh besar dan lebih kuat. yang seperti ini bukanlah dinamakan sabar.
Memang yang jadi tolok ukur sabar ialah ketika tangan tidak mampu lagi menjangkau, sehingga kita dipaksa untuk takluk, mengurut dada dan menelan bulat-bulat tanpa melakukan perlawanan, dilarang berkeluh kesah dsb. Padahal, sabar semacam ini hanyalah sabar dalam bentuk pertama, dan terbilang sabar berdosis rendah. Sementara sabar yang sebenarnya sering terlupakan dan berdosis tinggi ialah sabar menghadapi kenikmatan, camkan itu!: sabar mengahadapi kenikmatan!!!!!(galak).
Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen yang lebih banyak.
Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukp menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang bagagia Karen lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. ternyata kemampuan menunda kenikmatan ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) si anak.
Kesabaran akan kenikmatan inilah yang sering dipandang sebelah mata, urgensi nya kerap tidak dijadikan landasan dalam kehidupan. Contoh kecil adalah apa yang sering terjadi pada pasangan muda mudi. Ketika dirudung asmara, hati menjadi berbunga-bunga, keadaan menjadi sangat bahagia, dan Justru dalam keadaan seperti inilah yang harus diwaspadai, karena ketika itu kita sedang dihadapkan pada kesabaran menghadapi kenikmatan! Dan apabila tidak lulus menghadapinya, betapa banyak muda-mudi yang “tergelincir” dan mengakibatkan dampak penyesalan yang tidak kecil. Kegagalan bersabar jenis ini tak jarang membuahakn polemic yang berpotensi menghancurkan masa depan, memporak-porandakan cita-cita yang sesungguhnya sangatlah indah.
Yang perlu diketahui bahwa sabar ialah kemampuan menahan atau menunda respon yang mampu dilakukan. Sebagai contoh: Seseorang bila diinjak kakinya oleh anak kecil dan dia mampu menahan emosinya dinamakan sabar, lain bila yang menginjaknya adalah pria bertubuh besar dan lebih kuat. yang seperti ini bukanlah dinamakan sabar.
Memang yang jadi tolok ukur sabar ialah ketika tangan tidak mampu lagi menjangkau, sehingga kita dipaksa untuk takluk, mengurut dada dan menelan bulat-bulat tanpa melakukan perlawanan, dilarang berkeluh kesah dsb. Padahal, sabar semacam ini hanyalah sabar dalam bentuk pertama, dan terbilang sabar berdosis rendah. Sementara sabar yang sebenarnya sering terlupakan dan berdosis tinggi ialah sabar menghadapi kenikmatan, camkan itu!: sabar mengahadapi kenikmatan!!!!!(galak).
Pakar kecerdasan emosi, Daniel Goleman, pernah melakukan percobaan yang menarik berkaitan dengan kemampuan menunda kenikmatan. Anak-anak di satu sekolah ditawari sebuah permen untuk mereka makan, tetapi mereka juga diberi pilihan. Mereka boleh mendapatkan permen hari ini, tetapi kalau mau menundanya sampai besok, mereka akan mendapatkan permen yang lebih banyak.
Setelah dewasa, anak-anak ini kembali diteliti. Hasilnya cukp menarik. Ternyata, anak-anak yang mampu menunda pemberian permennya sampai besok memiliki hidup yang bagagia Karen lebih mampu berhubungan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. ternyata kemampuan menunda kenikmatan ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) si anak.
Kesabaran akan kenikmatan inilah yang sering dipandang sebelah mata, urgensi nya kerap tidak dijadikan landasan dalam kehidupan. Contoh kecil adalah apa yang sering terjadi pada pasangan muda mudi. Ketika dirudung asmara, hati menjadi berbunga-bunga, keadaan menjadi sangat bahagia, dan Justru dalam keadaan seperti inilah yang harus diwaspadai, karena ketika itu kita sedang dihadapkan pada kesabaran menghadapi kenikmatan! Dan apabila tidak lulus menghadapinya, betapa banyak muda-mudi yang “tergelincir” dan mengakibatkan dampak penyesalan yang tidak kecil. Kegagalan bersabar jenis ini tak jarang membuahakn polemic yang berpotensi menghancurkan masa depan, memporak-porandakan cita-cita yang sesungguhnya sangatlah indah.
Rabu, 01 Juni 2011
Istri Nabi Muhammad Saw.
Tidak logis menilai negatif kepada Nabi Saw oleh karena poligami, tanpa melihat konteks budaya yang memang berbeda. Dan alasan konkrit tujuan pernikahan itu.
Tidak pantas berpoligami berdalih ingin meneladani Nabi tanpa tahu alasan. Bahkan tidak malu akan hukum yang wajib bagi Nabi namun terlarang bagi umatnya. seperti bangun malam, tidak menerima zakat, Beliau tidak batal meski tertidur.
Beliau menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah ra, Beliau membina keluarga bersamanya selama 25 tahun, lalu 3-4 tahun setelah meninggalnya Khadijah, Beliau baru menjalani kehidupan beristri lagi, dan Beliau wafat pada Umur 63 tahun.
Ini berarti Rasulullah beristri satu (monogami) selama 25 tahun, “terselang tiga tahun lebih” dan Beliau berpoligami selama 9 tahun.
Saudah binti Zam’ah ra. Seorang wanita tua, suaminya meninggal di perantauan (Etiopia) ia terpaksa kembali ke mekah menanggung beban kehidupan bersama anak-anaknya dengan risiko dipaksa murtad.
Hindun binti Abi Umayyah ra.(Ummu Salamah)., suaminya, Abdullah al-Makhzumi, yang juga anak pamannya tewas dalam perang uhud juga seorang tua. Sampai-sampai pada mulanya ummu salamah ra. menolak lamaran Rasul saw. Akan tetapi pada akhirnya ia bersedia menerima lamaran Rasul saw. Demi meraih kehormatan dipersunting pesuruh Allah dan demi anak-anaknya.
Ramlah, putri Abu Sufyan ra. Ia meninggalkan orangtuanya untuk berhijrah ke Habasyah(Etiopia) bersama suaminya, tetapi sang suami kemudian memeluk agama nasrani, disana dan menceraikannya sehingga ia hidup sendirian di perantauan, maka melalui Negus, Nabi Saw melamarnya dengan harapan mengangkatnya dari jurang penderitaan, dan menjalin hubungan dengan ayahnya, seorang tokoh utama musyrikin.
Huniyah binti Alharis ra. Putri kepala suku dan tawanan pasukan islam, Beliau menikahinya dan memerdekakannya, dengan harapan para tawanan memeluk islam. Huriyah sendiri memilih untuk menetap bersama Nabi saw, dan enggan kembali bersama ayahnya.
Hafshah putri Umar ra. Ketika suaminya wafat ayahnya “menawarkan” putrinya kepada Abu Bakar untuk dipersunting, tetapi yang ditawarinya tidak menyambut sehingga kepada Utsman, ia pun diam.
bersambung.
Tidak pantas berpoligami berdalih ingin meneladani Nabi tanpa tahu alasan. Bahkan tidak malu akan hukum yang wajib bagi Nabi namun terlarang bagi umatnya. seperti bangun malam, tidak menerima zakat, Beliau tidak batal meski tertidur.
Beliau menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah ra, Beliau membina keluarga bersamanya selama 25 tahun, lalu 3-4 tahun setelah meninggalnya Khadijah, Beliau baru menjalani kehidupan beristri lagi, dan Beliau wafat pada Umur 63 tahun.
Ini berarti Rasulullah beristri satu (monogami) selama 25 tahun, “terselang tiga tahun lebih” dan Beliau berpoligami selama 9 tahun.
Saudah binti Zam’ah ra. Seorang wanita tua, suaminya meninggal di perantauan (Etiopia) ia terpaksa kembali ke mekah menanggung beban kehidupan bersama anak-anaknya dengan risiko dipaksa murtad.
Hindun binti Abi Umayyah ra.(Ummu Salamah)., suaminya, Abdullah al-Makhzumi, yang juga anak pamannya tewas dalam perang uhud juga seorang tua. Sampai-sampai pada mulanya ummu salamah ra. menolak lamaran Rasul saw. Akan tetapi pada akhirnya ia bersedia menerima lamaran Rasul saw. Demi meraih kehormatan dipersunting pesuruh Allah dan demi anak-anaknya.
Ramlah, putri Abu Sufyan ra. Ia meninggalkan orangtuanya untuk berhijrah ke Habasyah(Etiopia) bersama suaminya, tetapi sang suami kemudian memeluk agama nasrani, disana dan menceraikannya sehingga ia hidup sendirian di perantauan, maka melalui Negus, Nabi Saw melamarnya dengan harapan mengangkatnya dari jurang penderitaan, dan menjalin hubungan dengan ayahnya, seorang tokoh utama musyrikin.
Huniyah binti Alharis ra. Putri kepala suku dan tawanan pasukan islam, Beliau menikahinya dan memerdekakannya, dengan harapan para tawanan memeluk islam. Huriyah sendiri memilih untuk menetap bersama Nabi saw, dan enggan kembali bersama ayahnya.
Hafshah putri Umar ra. Ketika suaminya wafat ayahnya “menawarkan” putrinya kepada Abu Bakar untuk dipersunting, tetapi yang ditawarinya tidak menyambut sehingga kepada Utsman, ia pun diam.
bersambung.
Senin, 23 Mei 2011
Seperti tetesan gerimis di jendela kaca
Sepulang dari ziarah di daerah banten, aku duduk bersampingan dengan pamanku Ahmad Fuad Ruhiyat. Disisi jendela bis, dia tampak merenungkan sesuatu. Benakku agak sedikit penasaran, lantas aku bertanya “mang dji_begitulah aku memanggilnya_ apa yang tengah kau pikirkan?”
“cep, bisakah kau lihat betapa indahnya tetesan air hujan yang berlarian membuat jalan sendiri di kaca jendela bis ini?”
“Yah, kulihat itu”, jawabku, “mereka grimis yang tengah asik mencari tempat yang rendah, meliuk-liuk kesana-kemari seperti ular, dan terkadang berjalan zig zag demi sampai kedasar, dan itulah sifat dasar air, mereka senantiasa mencari tempat yang rendah.”
“Seperti hidup”, mang dji menimpali perkataanku dengan posisi tanpa melihatku dan tetap mengarah kesisi jendela, dia meneruskan: “begitu juga manusia, manusia hidup, menginjak tanah dan menyusuri jalannya sendiri, meski terkadang jalan yang dia tempuh tidaklah selalu mulus ada saja suatu rintangan, cobaan, dan kegagalan”
“seperti tetesan gerimis itu kan?, nampaknya ada semacam debu dijendela yang membuatnya tidak meluncur lurus ke bawah kan?”
“betul, dan betapapun, tetesan gerimis itu tidaklah berhenti tetapi dia mencari jalan lain, kemanapun, sing penting dia sampai kebawah” jawabnya.
“Hahahaha aku suka perenungan mendalammu mang dji, nampaknya kau memang seorang filsuf yah… hahahaha”
“Ah kau berlebihan cep, tapi coba kau lihat cep, betapa ketika kita sedang meluncur dalam sebuah bis berkecepatan 60 km lalu kita melihat kesisi jendela, disana terdapat beraneka ragam phenomena yang kita lewatkan seperti mobil-mobil yang sibuk berlalu lalang, pepohonan yang penuh dengan kesabaran, juga trotoar yang Nampak kesepian.”
“of course I see that” kujawab dengan bahasa inggris biar rada keren yang kudapat dari film-film Hollywood. “aku pun sering merenungkan hal tersebut, aku berpikir bahwa betapa kita sering melihat suatu phenomena, kecepatan bis ini seperti menyibak pragmen-pragmen beraneka ragam dalam kehidupan di persada bumi ini, namun sayangnya, secepat sopir menancap gas, secepat itu pula aku melupakan phenomena tersebut, seolah semuanya hanya datang dan bergi begitu saja, semuanya Nampak seperti sesuatu yang tak berarti.”
“Aslamtu” mang dji menimpali dengan bahasa arab biar gak kalah keren yang dia dapat sewaktu kuliah di kairo. “yah mungkin perenunganmu selaras denganku, tapi aku ingin melihatnya lebih deskrip cep, aku melihat setiap kilasan dari sisi jendela ini adalah sebentuk eksistensi bahwa mereka ada, atau lebih tepatnya bahwasanya aneka citra yang kita saksikan benar-benar ada, dan jelas semua itu berbeda dengan kita, mereka mempunyai kesibukan, keluh kesah, suka duka atau dunia sendiri, like us. Tetapi meskipun berlainan dan berbeda dua hal yang sama, yakni mereka bermula dan berakhir dari sesuatu yang sama, persis seperti tetesan gerimis pada jendela kaca berkegemercikan dan mengalir mencari jalan, dan setiap tetesan yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang pada terpisah itu toh nantinya akan kembali menyatu pada suatu hamparan luas yang kita namakan laut.”
“dan memang benar adanya bahwa kematian adalah cita-cita?” aku menimpali, “lantas, apakah setiap jalan yang di telusuri tetesan gerimis itu akan abadi? Atau lewat begitu saja, lantas setiap jejaknya secara berangsur memudar diterpa cayaha mentari?.”
“Dan itulah gunanya menulis, andaikata setiap manusia menuliskan tentang apa yang dialaminya, seperti apa labirin kehidupannya, barangkali disetiap rak tidak hanya terdapat buku yang hanya ditulis oleh para sarjana, atau buku pelajaran yang membosankan, melainkan intrik-intrik kehidupan dan kesan-kesan yang berwarna-warni. Kau tahu Anne Frank cep? Dia terkenal justru setelah dia meninggal dunia, dia tak sempat mengecup indahnya kepopuleran atas buku hariannya sendiri. Betapapun, namanya senantiasa abadi harum semerbak ke seantero planet bumi.”
“aha… pemaparanmu seperti pematik bagiku mang dji, konklusi yang kudapat ialah jangan terlalu memikirkan Royalti, tepuk tangan untuk big bank baru terdengar setelah berjuta tahun peristiwa itu terjadi. dan apabila kita kembali pada pembahasan phenomena diluar jendela bis ini, betapa unik suatu tulisan, karena dengan tulisan kita bisa berkelana tanpa beranjak secenti pun. Dan nampaknya telaah mendalam pada tetesan gerimis di jendela kaca cukup menggambarkan seperti apa kehidupan.
“dan kita merupakan satu diantara tetesan gerimis itu”, mang dji mengakhiri dialog kami sembari kembali menatap ke sisi jendela, Nampak diwajahnya senyum simpul khasnya.
“cep, bisakah kau lihat betapa indahnya tetesan air hujan yang berlarian membuat jalan sendiri di kaca jendela bis ini?”
“Yah, kulihat itu”, jawabku, “mereka grimis yang tengah asik mencari tempat yang rendah, meliuk-liuk kesana-kemari seperti ular, dan terkadang berjalan zig zag demi sampai kedasar, dan itulah sifat dasar air, mereka senantiasa mencari tempat yang rendah.”
“Seperti hidup”, mang dji menimpali perkataanku dengan posisi tanpa melihatku dan tetap mengarah kesisi jendela, dia meneruskan: “begitu juga manusia, manusia hidup, menginjak tanah dan menyusuri jalannya sendiri, meski terkadang jalan yang dia tempuh tidaklah selalu mulus ada saja suatu rintangan, cobaan, dan kegagalan”
“seperti tetesan gerimis itu kan?, nampaknya ada semacam debu dijendela yang membuatnya tidak meluncur lurus ke bawah kan?”
“betul, dan betapapun, tetesan gerimis itu tidaklah berhenti tetapi dia mencari jalan lain, kemanapun, sing penting dia sampai kebawah” jawabnya.
“Hahahaha aku suka perenungan mendalammu mang dji, nampaknya kau memang seorang filsuf yah… hahahaha”
“Ah kau berlebihan cep, tapi coba kau lihat cep, betapa ketika kita sedang meluncur dalam sebuah bis berkecepatan 60 km lalu kita melihat kesisi jendela, disana terdapat beraneka ragam phenomena yang kita lewatkan seperti mobil-mobil yang sibuk berlalu lalang, pepohonan yang penuh dengan kesabaran, juga trotoar yang Nampak kesepian.”
“of course I see that” kujawab dengan bahasa inggris biar rada keren yang kudapat dari film-film Hollywood. “aku pun sering merenungkan hal tersebut, aku berpikir bahwa betapa kita sering melihat suatu phenomena, kecepatan bis ini seperti menyibak pragmen-pragmen beraneka ragam dalam kehidupan di persada bumi ini, namun sayangnya, secepat sopir menancap gas, secepat itu pula aku melupakan phenomena tersebut, seolah semuanya hanya datang dan bergi begitu saja, semuanya Nampak seperti sesuatu yang tak berarti.”
“Aslamtu” mang dji menimpali dengan bahasa arab biar gak kalah keren yang dia dapat sewaktu kuliah di kairo. “yah mungkin perenunganmu selaras denganku, tapi aku ingin melihatnya lebih deskrip cep, aku melihat setiap kilasan dari sisi jendela ini adalah sebentuk eksistensi bahwa mereka ada, atau lebih tepatnya bahwasanya aneka citra yang kita saksikan benar-benar ada, dan jelas semua itu berbeda dengan kita, mereka mempunyai kesibukan, keluh kesah, suka duka atau dunia sendiri, like us. Tetapi meskipun berlainan dan berbeda dua hal yang sama, yakni mereka bermula dan berakhir dari sesuatu yang sama, persis seperti tetesan gerimis pada jendela kaca berkegemercikan dan mengalir mencari jalan, dan setiap tetesan yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang pada terpisah itu toh nantinya akan kembali menyatu pada suatu hamparan luas yang kita namakan laut.”
“dan memang benar adanya bahwa kematian adalah cita-cita?” aku menimpali, “lantas, apakah setiap jalan yang di telusuri tetesan gerimis itu akan abadi? Atau lewat begitu saja, lantas setiap jejaknya secara berangsur memudar diterpa cayaha mentari?.”
“Dan itulah gunanya menulis, andaikata setiap manusia menuliskan tentang apa yang dialaminya, seperti apa labirin kehidupannya, barangkali disetiap rak tidak hanya terdapat buku yang hanya ditulis oleh para sarjana, atau buku pelajaran yang membosankan, melainkan intrik-intrik kehidupan dan kesan-kesan yang berwarna-warni. Kau tahu Anne Frank cep? Dia terkenal justru setelah dia meninggal dunia, dia tak sempat mengecup indahnya kepopuleran atas buku hariannya sendiri. Betapapun, namanya senantiasa abadi harum semerbak ke seantero planet bumi.”
“aha… pemaparanmu seperti pematik bagiku mang dji, konklusi yang kudapat ialah jangan terlalu memikirkan Royalti, tepuk tangan untuk big bank baru terdengar setelah berjuta tahun peristiwa itu terjadi. dan apabila kita kembali pada pembahasan phenomena diluar jendela bis ini, betapa unik suatu tulisan, karena dengan tulisan kita bisa berkelana tanpa beranjak secenti pun. Dan nampaknya telaah mendalam pada tetesan gerimis di jendela kaca cukup menggambarkan seperti apa kehidupan.
“dan kita merupakan satu diantara tetesan gerimis itu”, mang dji mengakhiri dialog kami sembari kembali menatap ke sisi jendela, Nampak diwajahnya senyum simpul khasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)