Movies

Senin, 23 Mei 2011

Seperti tetesan gerimis di jendela kaca

Sepulang dari ziarah di daerah banten, aku duduk bersampingan dengan pamanku Ahmad Fuad Ruhiyat. Disisi jendela bis, dia tampak merenungkan sesuatu. Benakku agak sedikit penasaran, lantas aku bertanya “mang dji_begitulah aku memanggilnya_ apa yang tengah kau pikirkan?”

“cep, bisakah kau lihat betapa indahnya tetesan air hujan yang berlarian membuat jalan sendiri di kaca jendela bis ini?”

“Yah, kulihat itu”, jawabku, “mereka grimis yang tengah asik mencari tempat yang rendah, meliuk-liuk kesana-kemari seperti ular, dan terkadang berjalan zig zag demi sampai kedasar, dan itulah sifat dasar air, mereka senantiasa mencari tempat yang rendah.”

“Seperti hidup”, mang dji menimpali perkataanku dengan posisi tanpa melihatku dan tetap mengarah kesisi jendela, dia meneruskan: “begitu juga manusia, manusia hidup, menginjak tanah dan menyusuri jalannya sendiri, meski terkadang jalan yang dia tempuh tidaklah selalu mulus ada saja suatu rintangan, cobaan, dan kegagalan”

“seperti tetesan gerimis itu kan?, nampaknya ada semacam debu dijendela yang membuatnya tidak meluncur lurus ke bawah kan?”

“betul, dan betapapun, tetesan gerimis itu tidaklah berhenti tetapi dia mencari jalan lain, kemanapun, sing penting dia sampai kebawah” jawabnya.

“Hahahaha aku suka perenungan mendalammu mang dji, nampaknya kau memang seorang filsuf yah… hahahaha”

“Ah kau berlebihan cep, tapi coba kau lihat cep, betapa ketika kita sedang meluncur dalam sebuah bis berkecepatan 60 km lalu kita melihat kesisi jendela, disana terdapat beraneka ragam phenomena yang kita lewatkan seperti mobil-mobil yang sibuk berlalu lalang, pepohonan yang penuh dengan kesabaran, juga trotoar yang Nampak kesepian.”

“of course I see that” kujawab dengan bahasa inggris biar rada keren yang kudapat dari film-film Hollywood. “aku pun sering merenungkan hal tersebut, aku berpikir bahwa betapa kita sering melihat suatu phenomena, kecepatan bis ini seperti menyibak pragmen-pragmen beraneka ragam dalam kehidupan di persada bumi ini, namun sayangnya, secepat sopir menancap gas, secepat itu pula aku melupakan phenomena tersebut, seolah semuanya hanya datang dan bergi begitu saja, semuanya Nampak seperti sesuatu yang tak berarti.”

“Aslamtu” mang dji menimpali dengan bahasa arab biar gak kalah keren yang dia dapat sewaktu kuliah di kairo. “yah mungkin perenunganmu selaras denganku, tapi aku ingin melihatnya lebih deskrip cep, aku melihat setiap kilasan dari sisi jendela ini adalah sebentuk eksistensi bahwa mereka ada, atau lebih tepatnya bahwasanya aneka citra yang kita saksikan benar-benar ada, dan jelas semua itu berbeda dengan kita, mereka mempunyai kesibukan, keluh kesah, suka duka atau dunia sendiri, like us. Tetapi meskipun berlainan dan berbeda dua hal yang sama, yakni mereka bermula dan berakhir dari sesuatu yang sama, persis seperti tetesan gerimis pada jendela kaca berkegemercikan dan mengalir mencari jalan, dan setiap tetesan yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang pada terpisah itu toh nantinya akan kembali menyatu pada suatu hamparan luas yang kita namakan laut.”

“dan memang benar adanya bahwa kematian adalah cita-cita?” aku menimpali, “lantas, apakah setiap jalan yang di telusuri tetesan gerimis itu akan abadi? Atau lewat begitu saja, lantas setiap jejaknya secara berangsur memudar diterpa cayaha mentari?.”

“Dan itulah gunanya menulis, andaikata setiap manusia menuliskan tentang apa yang dialaminya, seperti apa labirin kehidupannya, barangkali disetiap rak tidak hanya terdapat buku yang hanya ditulis oleh para sarjana, atau buku pelajaran yang membosankan, melainkan intrik-intrik kehidupan dan kesan-kesan yang berwarna-warni. Kau tahu Anne Frank cep? Dia terkenal justru setelah dia meninggal dunia, dia tak sempat mengecup indahnya kepopuleran atas buku hariannya sendiri. Betapapun, namanya senantiasa abadi harum semerbak ke seantero planet bumi.”

“aha… pemaparanmu seperti pematik bagiku mang dji, konklusi yang kudapat ialah jangan terlalu memikirkan Royalti, tepuk tangan untuk big bank baru terdengar setelah berjuta tahun peristiwa itu terjadi. dan apabila kita kembali pada pembahasan phenomena diluar jendela bis ini, betapa unik suatu tulisan, karena dengan tulisan kita bisa berkelana tanpa beranjak secenti pun. Dan nampaknya telaah mendalam pada tetesan gerimis di jendela kaca cukup menggambarkan seperti apa kehidupan.

“dan kita merupakan satu diantara tetesan gerimis itu”, mang dji mengakhiri dialog kami sembari kembali menatap ke sisi jendela, Nampak diwajahnya senyum simpul khasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar